Nampaknya, kita akan kembali menutup buku tahunan kita, di tahun 2025 ini, dengan catatan-catatan merah. Rentetan peristiwa memilukan banyak memenuhi buku halaman kita hari-hari ini.
Cuaca ekstrem di berbagai wilayah. Krisis air bersih di Lombok Utara. Banjir bandang beserta longsor di Sumatera dan Aceh. Dan masih banyak lagi, deretan catatan merah lainnya. Namun, untuk hari ini, kita membicarakan catatan tentang persoalan lingkungan.

Ekologi dan Kearifan Lokal
Sesungguhnya, persoalan lingkungan bukanlah sesuatu yang baru dibicarakan oleh umat manusia. Lingkungan adalah sesuatu yang in-line di dalam sejarah umat manusia itu sendiri.
Dapat kita temui, misalnya, pada masyarakat lokal tradisional di berbagai daerah. Masing-masing masyarakat memiliki kearifan lokal dalam melestarikan alam lingkungannya. Meskipun ritual, adat, tradisi, dan budaya mereka berbeda-beda, tetapi tujuannya sama, yaitu untuk menjaga kelestarian alam dan keberlangsungan hidup manusia.
Tresnasih (2023) mengungkapkan, kearifan lokal adalah sesuatu yang lahir dari proses interaksi panjang. Interaksi antara manusia dengan manusia lainnya, dan interaksi antara manusia dengan alam lingkungannya. Karena itu, pada kearifan lokal di dalamnya termuat nilai-nilai untuk dijadikan sebagai tuntunan hidup. Semua untuk keberlangsungan hidup manusia dan kelestarian alamnya.
Sayangnya, mereka yang hidup dengan menjaga keserasian dan kelestarian alam seperti terkikis oleh paradigma baru. Suatu paradigma yang menganggap masyarakat lokal tradisional sebagai kaum kolot dan tertinggal. Paradigma yang mendambakan kemajuan, namun pada saat yang sama mereka melakukan eksploitasi alam secara besar-besaran dan terus-menerus. Dampaknya, terjadi krisis lingkungan di berbagai tempa sebagaimana yang kita saksikan dan alami hari-hari ini.
Ekologi dan Teologi: Ekologi
Dalam merespon persoalan lingkungan ini, pemerintah kita di Indonesia meletakkan isu lingkungan, sebagai program prioritas nasional yang disebut dengan ekoteologi.
Ekoteologi menekankan bahwa persoalan lingkungan bukan hanya persoalan yang bersifat profan. Akan tetapi, juga persoalan spiritual. Sehingga, keimanan yang benar adalah keimanan yang melahirkan kesadaran tentang pentingnya menjaga alam semesta. Sebab, itu merupakan amanah dari Tuhan yang Maha Kuasa.
Sebagai umat Islam, kita meyakini bahwa manusia adalah khalifah di muka Bumi. Karena itu, kita bertugas untuk memakmurkan bumi dan merawatnya. Bumi bukan sekadar tempat singgah untuk menjalani kehidupan. Tetapi, ia adalah buku kehidupan yang harus di-iqra’. Di dalamnya, terkandung ayat-ayat Allah yang tidak tertulis.
Miswari (2016) mengungkapkan, mereka yang mampu membaca buku kehidupan, sebagai ayat-ayat Allah yang tidak tertulis. Dengan pembacaan yang baik dan benar, serta jujur, kita akan memahami bahwa hal itu selaras dengan ayat-ayat Allah yang tertulis di dalam Al-Qur’an.
Denggan demikian, mengeksploitasi alam adalah bentuk pengingkaran kita terhadap ayat-ayat Allah. Sekaligus, bentuk pengkhianatan kita terhadap amanah Allah untuk menjadi khalifah di muka Bumi.
Tragedi dalam Semiotika
Dalam perspektif semiotika, apa yang terjadi di Sumatra, Aceh, dan di beberapa tempat lainnya di pengujung 2025 ini, adalah sebuah tanda atau isyarat. Dengan meminjam kacamata semiotik dari Charles Sanders, kita menemukan bahwa fenomena ini, merupakan “tanda” yang harus dibaca dan ditafsirkan,oleh umat manusia.
Bencana atau tragedi itu tak lain dalah bahasa alam untuk berkomunikasi kepada kita. Bahwa, tragedi yang sedang terjadi ini, tidak boleh dimaknai “hanya” sebagai fenomena alam yang alamiah. Akan tetapi, harus menjadi bahan refleksi tentang bagaimana kita memperlakukan alam selama ini.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an: kerusakan yang telah kita saksikan, baik di darat maupun di laut, adalah ulah tangan-tangan manusia (QS. Ar-Rum: 41).
Quraish Shihab, dalam tafsir Al-Misbah, menerangkan bahwa tragedi yang terjadi adalah cara Allah menunjukkan kepada manusia akibat dari perbuatannya. Agar mereka bertobat dari perbuatan buruknya.
Oleh karena itu, tragedi yang sedang terjadi ini harus menjadi titik balik kita. Untuk, secara bersama-sama mengevaluasi diri, bertobat, dan memohon ampun, atas perbuatan-perbuatan kita yang merusak keseimbangan dan keserasian alam selama ini.
Tragedi yang terjadi ini, ia seumpama cermin, memantulkan siapa, dan bagaimana, kita memperlakukan alam selama ini.
