Yang menarik, meskipun otobiografi, buku ini menjadikan Kiai Saifuddin Zuhri sebagai tokoh termasuk sentral didalamnya. Justru, dunia pesantrenlah yang mengemuka, yang menjadi “tokoh” atau cerita utama dalam novel ini.
Hal ini sesuai dengan sifat kesantriannya yang menghindari snobisme atau kelatahan yang kerap muncul dalam penulisan biografi atau otobiografi. Benar, buku novel ini justru menampilkan mozaik dan pernak-pernik dunia pesantren yang sering diartikan secara salah serta penilaian negatif. Dengan demikian, buku ini mengisi kekosongan dari kajian-kajian terdahulu tentang pesantren yang masih belum secara utuh.

Sebagai otobiografi dalam genre novel, buku ini disajikan secara menarik melalui pemberian pada tiap-tiap babnya, seperti Di Ambang Pintu Pesantren, Madrasahku Cuma Langgar, Tokoh-Tokoh Pengabdi Tanpa Pamrih, Apresiasi Terhadapa Rasa Seni, Memasuki Persiapan Pengabdi, Masih Belajar Lagi Sebelum Terjun Ke Medan Pengabdian, Menjadi Guru, Tamatnya Zaman Penjajahan, Di Bawah Penjajahan Seumur Jagung, dan Merdeka Berarti 1000 Perjuangan.
Penulis mengajak pembaca untuk menyelami buku ini, karena dari sajian kata-katanya sangat terpadu antar kalimat dan begitu Nampak koherensinya antar-paragraf, bahkan pula dari sisi kandungan isinya begitu menyentuh hati. Misal, pada judul “Di Ambang Pintu Pesantren”, Kiai Saifuddin Zuhri menyajikannya tidak hanya dengan sebuah narasi cerita, namun juga menyelipkan qaul ulama jika dirasa perlu; la ya’rif al-‘Ulama illa al-‘Ulama, tak ada yang mengerti ulama kecuali ulama. (Hal: 14).
Melalui buku ini, kita bisa melihat bagaimana para santri zaman dulu memiliki semangat demikian tinggi dalam berliterasi.
Data Buku

Mantap jaya