Santri Bambu Runcing

Kenalkan! Aku bagian dari rombongan santri yang dikirim untuk membantu Arek-arek Suroboyo. Berkat kuasa Allah aku masih selamat. Betapa dahsyat perang di Surabaya pada Sepuluh November.

Tak sedikit nyawa para santri gugur di medan pertempuran. Tak luput kelima temanku, Shalihin, Sabir, Ridwan, Rahmat, juga Thaha yang dikirim dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo asuhan KHR As’ad Syamsul Arifin. Dua di antaranya, Ridwan dan Thaha, tak kujumpai jasadnya. Sementara Shalihin, Sabir, dan Rahmat meninggal di tempat saat agresi di Jembatan Merah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Meski wajah dan tubuhnya bersimbah darah, sebagai teman seperjuangan, aku tetap mengenali mereka. Di balik wajah yang berlumur darah, tampak bibir mereka menyisakan selaksa senyum. Senyuman yang menyiratkan ruh tenang di petala langit. Subhanallah!

Aku juga masih ingat, kala itu Kiai As’ad bermarkas di rumah Kiai Yasin di Blauran. Sementara kiai-kiai lain yang memiliki ilmu kanuragan tinggi, seperti Kiai Gufron, Kiai Muhammad Sedayu, Kiai Maksum, Kiai Mahrus Ali Kediri, dan lainnya memberi ilmu kekebalan kepada barisan laskar Sabilillah dan Hizbullah.

Pada muktamar NU se-Jawa tahun 1945, Hadratusysyaikh Kiai Hasyim Asy’ari mengumandangkan resolusi jihad, yang kemudian lahirlah semboyan: Merdeka atau mati!‘Isy kariman aw mut syahidan, hidup mulia atau mati syahid.

Sejak resolusi jihad dikobarkan, para santri berbondong-bondong ke Surabaya bagai serombongan burung hendak kembali ke pertapaannya. Kedatangan kami tak ada niat dan maksud lain, selain dan melainkan; mempertahankan KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA.

Berbekal kekuatan dari Allah, semangat dan tekad kami, para pejuang, tak pernah surut sekalipun jauh dari persediaan senjata. Kami tak gentar. Maju pantang mundur. Sambil lalu, kalimat Allahu Akbar! kian mengobarkan api semangat. Bambu runcing yang kami riyadlahi dengan suwuk Ya Allah Ya Qahhar Ya Qawiyyu Ya Matin senantiasa erat tergenggam di tangan. Tak elak, pertempuran sengit terjadi. Kami bagai anak panah terlepas dari busur. Melesat gesit. Dan meski barisan kami banyak tertembak, pihak sekutu pun juga tak sedikit kehilangan pasukan. Bahkan, atas bantuan Allah, puncak perjuangan itu, kami telah menewaskan jendral besar Inggris; Mallaby. Sorak-sorai merdeka!!! kembali menggema di langit Surabaya.

***

Situbondo, Juli 1947

Belanda sudah sampai di Panarukan, demikian kabar yang aku terima.

Aku bergegas pamit pulang kepada kepala pondok. Segera aku ingin menemui ibu di rumah. Perempuan tua yang kurang lebih sudah dua tahun menjalani hidup tanpa kehadiran sang suami itu selalu merindukan kepulanganku. Kata ibu, memandang wajahku meski barang sesaat telah mampu membayar setandan kerinduannya terhadap mendiang ayah. Untung, jarak pesantren ke rumahku tak begitu jauh. Hingga dalam waktu yang diperlukan aku bisa menemui ibu.

Dan kini aku harus jujur. Harus mengatakan dengan sebenar-benarnya kepada ibu. Sebab, aku tak ingin mengulangi kesalahan dan dosa yang kedua kali. Dosa yang menyebabkan ayah meninggal dunia.

Sebagaimana kisah yang kutangkap dari Paman Karmin, tetangga sebelah kanan rumah, yang kini anaknya diangkat menjadi Koordinator Ubudiyah di pesantrenku,

“Tumben Kang Mas lama jenguk Mus, sampai lewat tengah hari gini.” Ibuku khawatir, tak biasanya ayah ke pesantren begitu lama. Ibu mengerutkan dahi. Ayah tampak lunglai.

“Aku nyari Mus, Bu. Tanya ke teman kamarnya tak ada yang tahu. Aku nyari ke musala, kamar mandi, asta (makam kiai), tempat masak, tak juga ketemu. Baru tahu saat dalam perjalanan pulang barusan. Zuhdi bilang kalau Mus keluar sama santri lain sejak bakda Subuh kemarin. Katanya naik truk tebu milik Pak Anwar,” sanggah ayah sambil berselonjor. Dibukanya dua kancing bagian atas baju ayah agar tak menghalangi angin yang hendak menyegarkan. Kopiahnya dicopot, diletakkan di samping lutut kanan.

“Pergi kemana Mus, Mas?”

“Aku kurang paham. Biasanya dia kan memang sering diundang acara pertemuan santri untuk mengkaji kitab kuning. Kadang di Situbondo, pernah juga ke lain kabupaten.”

“Itu namanya Bahtsul Masa’il, Mas.”

“Ya wis, intinya begitu. Aku tak ngerti, tak pernah nyantri.”

“Alhamdulillah,,, Mus sudah banyak perkembangan. Keilmuannya sudah tinggi. Sudah menguasai ilmu syariat. Dibutuhkan orang banyak,” tandas ibu yakin. Gurat senyumnya melambangkan kebahagiaan. Pun demikian dengan ayah. Rona bangga tersirat di wajahnya.

2 Replies to “Santri Bambu Runcing”

Tinggalkan Balasan