Pemburu Takjil

Sore mulai berisyarat untuk menyapa senja. Kali ini cuaca cukup bersahabat. Tidak panas menyengat; pun mendung tidak tebal menggumpal di angkasa. Jejalanan juga cukup normal; tidak nampak antrean truk trailer dari dan ke arah pelabuhan. Hanya lalu lalang motor dan mobil pribadi sedikit menyemut dari biasanya.

Dari jendela rumah kosnya di lantai dua, Gani terus mengamati cuaca dan lalu lintas sekitarnya. Ia mulai berpikir, berhitung, dan berkalkulasi ke mana arah langkah kakinya pergi. Salah sedikit sebenarnya bukan masalah berarti. Paling-paling dari rencana lauk ayam atau daging sapi menjadi tahu tempe. Hanya, maqom-nya sebagai seorang ketua organisasi dan mahasiswa tingkat akhir akan tereduksi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Hari ini kita ke mana, Gani? Jangan seperti kemarin, ingin nasi empal dan es kacang ijo malah cuma dapat tahu tempe dan es teh,” pertanyaan Rido mulai memanaskan situasi.

“Mending kemarin sih. Penting ada nasi, lauk, dan penghilang dahaga. Daripada nuruti saran kamu di hari pertama puasa, malah kita tidak kebagian apa-apa,” ejek Suryo kepada Rido.

“Benar Sur, kita cuma berbuka dengan air mineral saja,” tambah Sigit membenarkan pernyataan Suryo.

“Itu hari pertama. Hampir semua masjid belum maksimal menyediakan menu berbuka. Apalagi gara-gara kamu yang tidurnya lama dan kita telat berangkat ke sana,” serangan balik Rido kepada Suryo.

“Sudah, sudah. Tidak usah menambah lagi kering kerongkongan kalian dengan perdebatan konyol ini. Kali ini kuputuskan, kita ke Masjid Nurul Huda.”

“Tapi, itu masjid tua dan lumayan jauh, Gani. Tak bisa jalan kaki.”

“Iya, Gan. Tahu sendiri tangki motorku hampir berada di titik nol.”

“Jangan panggil aku Ridwan Gani jika misi religi ini gagal lagi.”

“Misi religi? Plus sosial ekonomi kali!” seloroh Sigit diiringi tawa renyai di antara mereka.

Keempat sahabat itu pun akhirnya mulai mempersiapkan dua motornya. Plat luar daerah, tapi masih berada dalam satu wilayah provinsi. Hampir segaris muasal pencaharian orang tuanya: petani, pedagang, dan penjahit. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, mereka seolah kehilangan jalan pulang ke daerahnya. Memilih berjibaku di kota besar tempat menempuh pendidikan sarjana.

Sebenarnya pandemi ini mereka bisa pulang ke daerahnya, menjalani kuliah daring dari rumah masih-masing. Fokus kuliah, fokus organisasi, obrolan tetangga kalau mereka di rumah; itulah yang membuat mereka berat meninggalkan lingkungan tempat perkuliahan. Kehidupan pun sama seperti sebelum pandemi, pulang satu dua hari dalam rentang 1-2 bulan.

Terlebih Gani, putra sulung dari keluarga petani kecil. Kedua orang tuanya telah menitipkan segumpal kebanggaan atas kepergiannya. Saat dinyatakan diterima di perguruan tinggi negeri, bapak ibunya dengan wajah berbinar bercerita kepada sebagian besar penduduk desa. Bahkan mengadakan selamatan sebelum keberangkatan Gani. Gani bisa sukses, terpelajar, dan menjadi pengubah garis nasib keluarga.

“Kamu nanti pasti jadi ‘orang’, Le, anakku!” kalimat terakhir emaknya saat awal ia berpamitan dulu.

Sekira 15 menit mereka sudah hampir sampai di Masjid Nurul Huda. Gani yang beberapa kali singgah di masjid ini memilih masuk lewat area belakang. Ia lumayan hafal area. Jika lewat depan, mereka harus memutar pada jalanan yang searah itu.

Motor diparkir di area samping masjid. Suasana sekitar masih sepi. Padahal beduk maghrib tinggal menyisakan hitungan menit saja.

“Jam segini masjid kok masih sepi ya?” Suryo mulai merasakan keanehan sekaligus kekawatiran.

“Iya-ya. Biasanya ramai,” tambah Sigit.

“Pertanda kita buka dengan air mineral atau bahkan air kran ini,” suara Rido mulai mengernyitkan dahi.

Gani berjalan sendirian menuju masjid. Dilepaskan sendalnya. Ia mulai masuk; mencari-cari barangkali menemukan takmir yang bertugas hari ini. Di parkiran tadi hanya nampak satu sepeda yang sudah agak tua. Di teras masjid tiada orang sama sekali. Gani masuk ke bagian tengah. Lirih-lirih ada suara orang tua mengaji, tepat di depan mimbar.

Tinggalkan Balasan