Gani menuju sumber suara itu. Ia sudah tepat berada di belakang suara itu. Gani diam saja, duduk bersila. Tak berani memotong orang mengaji. Seorang tua tersebut nampak melihat kehadiran Gani. Setelah sampai pada bagian ain, ia memberhentikan bacaan dan meletakkan Qurannya.
“Ada perlu apa Nak ke sini?”

“Biasanya masjid ini selalu ramai. Sekarang kok sepi ya Pak?”
“Kamu tadi lewat belakang masijd ya? Tidak lewat depan?”
“Iya Pak. Ada apa di depan masjid?”
“Sebenarnya aku ingin mengusirmu. Kamu pasti bukan penduduk sekitar masjid. Tapi ya sudahlah.”
“Iya Pak. Saya dan teman-teman adalah mahasiswa rantau. Sengaja ke sini untuk salat maghrib sekaligus berbuka puasa.”
“Jangan kau balik bicaramu. Kau ke sini tujuan utamanya buka puasa, kan?” Pak Tua sedikit mengeraskan suaranya.
“Mohon maaf, Pak. Kalau begitu saya izin pamit dulu. Mohon maaf telah mengganggu,” nyali Gani mulai ciut.
“Sebentar lagi maghrib. Jangan tinggalkan keutamaan azan dan salat berjamaah. Ambil air mineral di sudut masjid itu. Kamu bawa teman-temanmu mendekat. Ayo berbuka, lalu kamu azan.”
Gani bergegas memanggil teman-temannya yang sedari tadi berada di teras masjid. Diambilnya air mineral gelas 330 ml yang masih tersisa. Gani membagikan air mineral itu kepada Pak Tua dan teman-temannya. Begitu waktu buka sudah masuk, ia minum air mineral itu dan bersegera kumandangkan azan.
“Jangan kau pakai micropohone. Cukup kita saja yang mendengarnya. Kamu ingin dipuji orang-orang kalau suaramu bagus dan rajin ibadah?”
“Tidak seperti itu, Pak. Saya hanya ingin memberitahu bahwa sudah waktunya berbuka dan menunaikan salat maghrib.”
“Kamu pasti tidak lewat depan masjid.”
Gani azan tanpa pengeras suara. Tangan kanannya menyiku, memegang telinga. Tangan kirinya lurus menyentuh ujung bawah tangan kanannya. Sudah beberapa tahun Gani tidak azan. Terakhir kali sebelum ia berangkat kuliah. Kali ini ia azan di masjid semegah ini di suatu sudut kota besar.
Selesai azan, Gani mengumandangkan iqomah. Pak Tua menjadi imam. Keempatnya mengikuti di belakang sebagai jamaah. Rokaat pertama, imam membaca Surat Ar Rahman. Rokaat kedua, imam membaca Surat Waqiah. Setiap gerakan salat, berlangsung khusyuk dan tumakninah. Maghrib yang terasa lama dibanding biasanya, apalagi perut sedang lapar-laparnya.
Seusai salam, imam memimpin bacaan wirid harian. Tampak Suryo memberi kode kepada semua untuk segera meninggalkan masjid. Segera mencari makan untuk berbuka puasa. Dan bisa saja melemparkan sejuta penyesalan dan makian untuk Gani saat berada di kos nanti.
“Apa kalian tidak pernah salat jamaah?” Pak Tua mengeraskan suaranya sembari menoleh ke belakang yang mulai bergerak pulang.
“Betapa akhirat tidak ada apa-apanya dibanding dunia yang cepat dan fana. Lebih lamalah lagi kalian ibadah dan berdoa di hadapan Rab-Mu,” tambah Pak Tua.
Keempatnya langsung bersiap di belakang imam. Menirukan dan mendengarkan bacaan imam. Tak ada lagi gerakan atau pandangan perlawanan. Keempatnya pasrah mengikuti semuanya.
“Ambil makanan di ruang takmir. Bawa semuanya. Kita buka di teras masjid,” perintah Pak Tua seusai selesai berdoa.
Keempatnya mengikuti perintah Pak Tua. Menuju ruang takmir yang terletak di sisi utara masjid. Dibukanya ruang itu pelan-pelan. Betapa terkejutnya mereka. Sudah ada makanan lengkap tersaji. Ada es manado, kolak pisang, kurma, irisan buah semangka, kerupuk udang, gorengan, 5 nasi kotak dengan lauk pauk lengkap. Mereka segera angkat semuanya dan dibawa ke teras masjid di mana Pak Tua telah menunggu.
