Akhirnya semua berbuka bersama dengan menu yang begitu lengkapnya. Tak ada suara sukacita dan gegap gempita. Gerakan pun berlalu secara teratur mirip upacara makan taruna di kemiliteran.
“Jangan kau habiskan semua. Puasa tidak mengajarkan kalian bergumul keserakahan. Waktu buka bukan merupakan waktu pembalasan. Puasa bukan bulan untuk meminta, tetapi memberi,” Pak Tua menasihati.

“Iya, Pak,” jawaban keempatnya hampir serempak.
“Kalian boleh pulang sekarang. Bawa makanan yang ada. Masjid ini belum mengadakan berbuka dan salat berjamaah karena peristiwa kemarin.”
“Terima kasih atas kebaikan dan nasihat Bapak. Kami pamit dulu,” Gani mengulurkan tangannya kepada Pak Tua dan Pak Tua pun langsung mengelakkan tangannya.
“Bapak bangga kalian masih muda tapi ingin memakmurkan masjid ini. Jauh-jauh datang ke sini. Pulanglah dengan segera.”
Keempatnya langsung bergegas pulang. Menuntun kendaraan, lalu pulang lewat belakang seperti semula tadi keberangkatan. Belum ada yang berani berkata-kata. Masih teratur gerakannya.
“Pulang kita memutar lagi saja lewat depan masjid. Saya penasaran!” tukas Sigit saat sudah menapak di jalan raya.
“Tidak. Trauma saya dengan masjid ini. Mending kita segera pulang,” Suryo berusaha menolak.
“Lewat depan saja. Kali ini. Kali ini saja, patuhi perintahku,” Gani memandang dengan tatapan tajam kepada ketiga sahabatnya.
Mereka memilih mengikuti perintah Gani. Menstarter motor, memutar beberapa ratus meter, lalu melewati tepat di depan masjid.
Mereka sudah tepat di depan masjid. Lampu masjid yang tadinya begitu terang ternyata telah redup, hanya tersisa bagian depan dan samping saja. Masjid begitu gelap dari kejauhan padahal sudah semestinya bersiap menyambut jamaah salat Isya dan tarawih.
Mereka berhenti sejenak di depan masjid bagian luar. Mencari-cari orang yang bisa ditanya. Sekaligus mencari pengumuman apa yang terpampang di sana. Nihil. Tak ada tanda-tanda.
“Padahal tadi lampunya terang. Juga ada Pak Tua,” celetuk Suryo.
Gani berjalan kaki ke arah selatan masjid. Mencoba mencari sumber terang dari kejauhan. Ia terus berjalan kaki. Ada sebuah warung yang pintunya masih terbuka setengahnya.
“Bu, bu. Mau tanya. Masjid Nurul Huda kok gelap ya? Apa tidak dipakai jamaah ya?”
“Sudah beberapa hari masjid ditutup untuk umum karena ada suatu kejadian dan pandemi.”
“Tapi untuk sekitar masih digunakan ya Bu? Kan masih ada takmirnya?” Gani memburu lagi dengan pertanyaan sedangkan Suryo, Sigit, dan Rido sudah mengepung di belakangnya.
“Itu tadi kejadiannya. Pak Soleh yang lama menjadi takmir di masjid sudah berpulang ke rahmatullah.”
Keempatnya segera bergegas pulang ke kos. Makanan yang tadi terbawa diberikan ke penghuni kos lainnya. Keempatnya berdiskusi dan menghitung beragam kemungkinan: mistis, nasihat, filsafat, kebetulan, atau mimpi belaka. Pulang: putusan finalnya.
Mereka segera mengemasi barang-barangnya. Tak peduli malam segera memburu. Pulang ke kampung halamannya dan bersua dengan keluarga; sahur dan buka tanpa mengharap takjil di masjid atau musala.
