Pemikiran Syekh Al-Banjari tentang Manusia

Syekh Arsyad berpendapat bahwa segala yang ada di jagad raya ini berasal dari Nur Muhammad. Sangat disayangkan dalam kitab ini tidak dijelaskan tentang konsep Nur Muhammad, sehingga susah dilacak apakah Syekh Arsyad terpengaruh tasawuf falsafi yang dikembangkan Abdul Karim al-Jilli dan Ibnu ‘Arabi atau terpengaruh pemikiran filsuf muslim seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina.

Teori Nur Muhammad ini bukanlah sesuatau yang baru dalam dunia tasawuf dan filsafat. Jauh sebelum Syekh Arsyad lahir, teori ini sudah berkembang dan pertama kali dikenalkan oleh Husein Ibn Mansur al-Hallaj.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Teori Nur Muhammad ini jika diteliti lebih jauh ternyata sudah bekembang lebih dulu di kalangan kaum Syiah Ghullat dan istilah Nur Muhammad sudah ada sejak zaman Imam Ja’far al-Shadiq. Kemudian Al-Hallaj menyatakan bahwa Nur Muhammad ada dalam konsep tasawuf falsafi. Jika disandingkang dengan teori filsafat dari Al-Farabi dan Ibnu Sina, terdapat kesamaan yaitu awal kejadian alam semesta, termasuk manusia, dimulai dari akal pertama dan beremanasi sampai membantuk jagad seperti sekarang ini. Jadi dapat kita lihat bahwa posis Syekh Arsyad dipengaruhi oleh teori tasawuf dan filsafat.

Eksistensi manusia di muka bumi ini oleh Syekh Arsyad dianggap hanya bersifat semu atau majazi, sementara yang hakiki hanyalah Tuhan. Menurut Syekh Arsyad, orang yang mampu melenyapkan perbuatan, sifat, dan zatnya dari dalam dirinya maka orang tersebut memiliki tauhid yang kuat dan dalam kondisi fana. Jadi menjadi manusia yang sempurna itu menurut Syekh Arsyad harus memiliki tauhid kuat dan dalam kondisi fana. Menurut Syekh Arsyad, jika manusia mampu menghilangkan pandangan dan pengakuan terhadap keberadaan diri sendiri, maka Allah akan membuka ilmu tauhid al-zat, yaitu tidak ada yang wujud selain Allah.

Syekh Arsyad membagi manusia menjadi tiga bagian, yaitu awam, khawash, dan khawash al khawash. Kelompok orang yang awam ini cirinya ketika melakukan ibadah ‘ubudiyah mereka masih menganggap bahwa perbuatan yang lahir dari dirinya merupakan hasil dari usahanya sendiri, oleh sebab itu mereka selalu menuntut upah pahala yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Orang dalam kondisi awam seperti ini dalam hatinya masih tercampur antara nafsu dan ketaan pada Tuhan oleh sebab itu dalam setiap ibadah yang mereka lakukan selalu menuntut upah dan jika tidak ada pahalanya mereka tidak mau mengerjakan.

Tinggalkan Balasan