Pada periode Gus Maksum pada tahun 1960-an hingga tahun 1985, Pencak Dor mulai dibuka untuk umum. Pencak Dor sendiri lahir dari keprihatinan Gus Maksum atas perkelahian liar pada pemuda Kediri yang merebak saat itu. Untuk itu, Gus Maksum berupaya mempertemukan para pemuda yang suka berkelahi tersebut dalam sebuah arena terbuka dan dalam pertarungan yang sportif. Dengan slogan “Di Atas Lawan Di Bawah Kawan”, Pencak Dor bukan sekadar baku hantam, namun juga sebuah metode penyelesaian masalah, sarana menguji mental, dan mempererat persaudaraan. Seiring popularitas yang semakin besar, dan beragamnya para peserta, Pencak Dor tidak lagi mengutamakan seni dan gerakan indah seperti pada jaman KH Mahrus, namun lebih mengutamakan strategi dan teknik mengalahkan lawan tanding.
Pada periode KH Badrul Huda Zainal Abidin (Gus Bidin) yang dimulai dari tahun 1985 hingga sekarang, pertarungan menjadi semakin bebas dan terbuka untuk siapa saja yang ingin menguji mental dan seni bela diri. Semua aliran bela diri dipersilakan untuk berpartisipasi dalam pertandingan. Asal ada lawan, siapa pun bisa bertanding. Mulai tahun 2004, Pencak Dor semakin sering dihelat. Dari acara pondok pesantren, peringatan hari besar Islam, hingga peringatan hari besar nasional biasanya diselenggarakan Pencak Dor sebagai pemeriah suasana.

Saat ini, Pencak Dor dinaungi oleh Paguyuban Pencak Dor yang merupakan perkumpulan para pendekar, pengurus, dan sesepuh Pencak Dor dari berbagai kota yang bertujuan untuk menjadikan Pencak Dor semakin baik. Paguyuban ini pulalah yang menjadi panitia dalam perhelatan Pencak Dor. Mereka akan melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk melaksanakan Pencak Dor (terutama saat Pencak Dor dihelat di luar lingkungan ondok). Panitia mempersilakan semua pihak, mulai dari atlet pencak silat, atlet profesional yang diundang oleh promotor, hingga masyarakat umum untuk berpartisipasi dalam acara Pencak Dor. Ada beragam motivasi yang mendorong para petarung untuk terjun dalam gelanggang Pencak Dor, mulai dari mengasah kemampuan pencak, melestarikan budaya, menjaga prestise, menjalin silaturahmi, hingga mendapatkan penghasilan (Lailiyah, 2018). Meskipun terkesan brutal, sebenarnya Pencak Dor tetap memiliki nilai-nilai dan fungsi yang membuat pagelaran ini tetap bertahan hingga sekarang.
Nilai dan Fungsi Pencak Dor
Lailiyah (2018) menjabarkan tiga fungsi dan makna dari Pencak Dor, yakni sebagai sarana pendidikan, sarana tradisi, dan sarana mata pencaharian. Pencak Dor merupakan sarana pendidikan mental dan pendidikan kebudayaan. Pencak Dor adalah arena untuk melatih mental para pendekar. Hal ini karena tidak sembarang orang berani naik ring Pencak Dor. Pencak Dor hanya bagi petarung bermental pemberani saja, sehingga hampir bisa dipastikan bagi siapa pun yang maju dalam pertandingan Pencak Dor, mereka paling tidak menguasai satu teknik bela diri tertentu.
Sementara itu, segi pendidikan kebudayaan bisa ditelusuri dari bagaimana Pencak Silat yang merupakan akar dari seni tarung bebas ini berasal. Para pendekar masih mengeluarkan gerakan-gerakan silat yang merupakan budaya asli Nusantara, sehingga bisa dikatakan bahwa dengan adanya Pagelaran Pencak Dor, banyak masyarakat yang termotivasi untuk belajar Pencak Silat. Di sisi lain, musik jidor dan salawat yang menjadi pengiring pertandingan juga dapat terus lestari dan dinikmati oleh siapa pun yang datang dalam perhelatan ini.
Pencak Dor sebagai sarana tradisi bisa dilihat dari waktu pagelaran seni tarung bebas ini diadakan. Pencak Dor biasanya melekat pada peringatan hari-hari besar baik pondok pesantren, kota, maupun nasional. Guna menarik minat masyarakat, khususnya generasi muda untuk berpartisipasi dalam acara seremonial tersebut, Pencak Dor tidak pernah absen digelar.
Seiring perjalanan waktu, Pencak Dor saat ini juga bisa menjadi sarana pemenuhan nafkah bagi para pesertanya. Apabila dulu para peserta hanya mendapatkan kupon makan selepas menyelesaikan pertandingan, saat ini mereka juga mendapatkan tambahan uang dari panitia yang diambil dari biaya parkir. Walaupun jumlahnya tidak seberapa, namun frekuensi dari Pencak Dor yang semakin meningkat bisa menjadi tambahan pemasukan bagi para pesertanya.
