Pencak Dor Lirboyo, Bukan Sekadar Mencari Makan

Selain itu, kemahsyuran Pencak Dor juga mengundang minat para sponsor untuk menjadi promotor petarung-pertarung terbaik. Promotor ini akan memberikan honor yang cukup untuk para petarungnya. Selain petarung, Pencak Dor juga memberikan angin segar kepada para pedagang kecil yang selalu hadir pada setiap pagelaran. Dengan menyemutnya penonton Pencak Dor, stan dagangan mereka juga sering diburu pembeli. Dari rokok, suvenir, atau minuman ringan dijajakan para penjual disekitar lokasi pertandingan Pencak Dor yang biasanya digelar di tanah lapang.

antara

Pertandingan Pencak Dor

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pertandingan Pencak Dor biasanya digelar malam hari selepas Isya dan berdurasi selama 5-6 jam. Durasi ini cukup fleksibel tergantung pada jumlah peserta yang mengikuti pertandingan. Siapa pun dengan disiplin bela diri apa pun diperbolehkan mengikuti pagelaran ini. Pencak Dor biasanya dibuka oleh sambutan penyelenggara yang dalam hal ini adalah Paguyuban Pelestari Pencak Dor, disusul dengan sambutan penyelenggara lainnya apabila Pencak Dor dihelat di luar Pondok Pesantren Lirboyo. Setelah itu, salawat yang diiringi musik jidor mulai dialunkan sekaligus pertanda bahwa pertandingan akan dimulai.

Para partisipan yang ingin bertarung menunggu di luar genjot (panggung/arena) sembari menunggu giliran. Namun sering kali, mereka yang tidak sabar langsung naik ke atas genjot dan berkerumun di pojok sambil menunggu giliran bertanding. Mereka mencari lawan tanding dengan saling mendatangi peserta dari pojok lain dan bersalaman sebagai tanda setuju diajak berduel. Setelah itu, pertarungan dimuali. Pertarungan ini didampingi oleh dua orang wasit yang bertindak sebagai pemisah dan pengatur jalannya pertandingan. Peran wasit, yang merupakan pendekar senior ini, sangat vital dalam acara Pencak Dor ini, karena sering kali pertarungan lepas kendali. Mereka harus sigap memisah atau mengatur jalannya pertandingan yang berlangsung selama (maksimal) 4 sampai 5 menit tersebut.

Meskipun tidak ada menang kalah dalam Pencak Dor, jalannya pertandingan selalu seru dan mendebarkan. Meskipun tarung bebas, pendekar yang berlaga Pencak Dor masih terikat berberapa peraturan dasar, seperti dilarang meludahi lawan, menyerang lawan yang sudah jatuh, dan menyerang kemaluan. Sebagai tambahan, Pencak Dor tidak menyediakan paramedis, melainkan hanya menyediakan tukang urut dan sangkal putung (dukun tulang).

Seusai baku hantam, peserta diminta untuk bersalaman dan berpelukan. Mereka menuju panitia untuk memperoleh kupon yang nantinya dapat ditukar dengan makanan dan sejumlah uang. Kedua petarung kemudian secara bebarengan menikmati makanan yang disediakan panitia, atau menghisap rokok dan membangun persahabatan di bawah ring. Hal ini merupakan manifestasi dari slogan “Di Atas Lawan, di Bawah Kawan” yang diciptakan Gus Maksum.

***

Tinggalkan Balasan