Berbeda dengan tausiyah, ceramah, atau diskusi, bandongan lebih mengerucut pada aktivitas menelaah satu kitab khusus secara mendalam, membaca kalimat per kalimat dan memaknainya. Dibaca sampai khatam. Durasi bacanya bermacam-macam, tiap pesantren punya ciri khasnya sendiri-sendiri, kadang satu jam, ada yang dua jam, bahkan tiga jam lebih pun ada. Waktu belajarnya pun beraneka ragam, ada yang jam delapan pagi, bakda dhuhur, bakda ashar, atau bakda isya’. Harinya pun begitu, kadang sehari sekali, kadang satu minggu sekali ada pula yang satu bulan sekali.
Disiplin ilmu yang dikaji pun beraneka macam; fikih, tasawuf, gramatika (nahu), lingusitik (saraf) hingga hadis, tafsir, dan tarikh. Kiai atau pengampu ngaji model ini haruslah yang benar-benar menguasai, pakar, ahli atau alim allamah. Kitab dan pengarang (muallifnya) pun dikurasi dengan ketat. Biasanya pengasuh atau pengurus sudah menentukan kitab apa saja dan siapa pengarangnya yang layak dikaji dalam pesantren, terlebih dalam ngaji atau belajar model bandongan ini. Tidak berarti bacaan santri terbatas. Pesantren tetap mengizinkan santri-santrinya membaca banyak kitab di perpustakaan yang tersedia di dalam pesantren.

Bandongan sendiri bisa dikata bukan tradisi asli pesantren, ulama-ulama terdahulu sudah pernah mempraktikannya dalam kegiatan belajar megajarnya. Mereka akan membentuk halaqah (para santri mengelilingi guru yang akan membaca kitabnya). Guru akan membaca dan menyimak dengan saksama. Kemungkinan besar yang memegang kitab hanya gurunya, sebab mesin ketik, percetakan, dan kertas belum sebanyak dan semarak seperti abad ini.
Tradisi bandongan ini memang kurang meningkatkan daya kritis santri, sebab santri hanya mendengar penjelasan dari sang guru dan mencatatnya. Namun, sebagai penjagaan akan transformasi keilmuan yang sah, pemahaman yang terjaga ketersambungannya, tidak sesat apalagi menyesatkan, bandongan tetap penting dan patut dipertahankan sebagai tradisi pembelajaran di pesantren. Bahkan sebagai ciri khusus pembelajaran yang dimiliki pesantren, demi mencetak kader-kader yang unggul dan menjadi penerus dakwah Rasulullah.
