Pendidikan Pesantren (3): Sorogan dan Transmisi Keilmuan

Transmisi keilmuan semacam sorogan ini berfungsi menjaga ketepatan, kebenaran, kesesuaian antara kandungan makna teks dan pemahaman santri. Kesalahan bisa sangat diminimalisir melalui metode pembelajaran dengan sistem sorogan ini.

Pesantren memiliki keyakinan, bahwa pemahaman yang diperoleh haruslah bersambung dari satu kiai atau ulama dengan ulama sebelumnya sampai kepada Rasulullah. Diterapkannya metode bandongan, lebih-lebih sorogan untuk menjaga pemahaman yang telah teruji dan terjaga ketepatannya sebagaimana yang dijelaskan dan dipahami oleh Rasulullah. Inilah yang menjadikan santri sangat berhati-hati dalam memberikan pengetahuan dan ilmunya. Apabila tidak tahu, haruslah jujur tidak tahu, pantangan baginya untuk ngawur menjelaskan suatu persoalan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pada suatu kesempatan mengisi pengajian, Gus Baha, ulama muda yang tengah naik daun menekankan pentingnya sorogan. “Saya selalu mengkampanyekan bahwa sorogan itu harus. Keilmuan santri harus terjaga sanadnya sampai ke Rasulullah. Saya sendiri sorogan ke Mbah Mun.” Terang Gus Baha.

Dahulu, tidak ada guru membacakan murid, yang ada murid membacakan guru. Jelas kenangan Imam Syafi’i: “Qoro’tu ‘ala al-Maliki al-Muwathoa.” Saya membaca kitab Muwatho di hadapan Imam Malik. Konsep semacam ini bisa untuk mengetahui apakah murid itu pintar atau bodoh, seorang guru akan mengetahuinya. Apabila bacanya benar, kelak akan disahkan menjadi kiai.

Berbanding terbalik dengan sekarang, ngaji asal ngaji, duduk jauh dari kiai, makna kitab kadang bolong-bolong tetapi masih tetap dipanggil kiai. Padahal gurunya tidak tahu apakah si murid pintar atau bodoh. “Mbah Maimoen Zubair itu tidak berkenan memberi sanad kecuali lewat sorogan,” Ungkap Gus Baha’.

Kita tahu, percaturan keilmuan hari ini makin rumit. Kepakaran dan kredibilitas satu disiplin ilmu mulai buram garis batasnya. Seakan-akan semua pakar dalam segala bidang. Siapa saja berhak ngomong apa saja. Belum lagi perebutan wilayah kekuasaan, selain itu pertentangan antar ideologi atau keyakinan yang saling berebut tempat.

Tinggalkan Balasan