Sebagai pembuka, Khalid Tsabit mengupas siyahah, yakni pengembaraan ke berbagai tempat untuk menemukan Allah. Adapun, Ja’far al-Khudi memetakan siyahah menjadi dua varian. Pertama, siyahah dengan jiwa raga, yakni melakukan perjalanan di muka bumi untuk menemui para wali serta memetik pelajaran memamui berbagai jejak kuasa Allah yang Maha Gagah lagi Maha Agung.
Allah tidak datang dengan sendirinya. Manusia harus mencari jalannya sendiri untuk menemui-Nya. Allah memberi kebebasan kepada manusia hidup di muka bumi. Namun, agama datang sebagai aturan yang harus dipenuhi. Sebab, dalam diri manusia dilengkapi hawa nafsu. Jika terus menuruti segala kehendak, maka manusia bertentangan dan bertolak belakang dengan kriteria yang Allah berikan.

Misal, kisah perjalanan sufi yang ditempuh oleh Utbah al-Ghulam. Namanya tidak begitu populer karena ia tidak mencetuskan ajaran seperti Abu Yazid al-Buthami, al-Hallaj, ataupun lainnya. Dia melakukan siyahah dengan cara yang unik. Buku ini menjelaskan bagaimana Utbah melakukan siyahah secara singkat dan padat.
Kedua, siyahah sebatas jiwa. Yakni, pengembaraan batin dalam rangka mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Semakin dekat jiwa dengan-Nya, maka semakin terasing pula raganya. Pengembaraan ini berbentuk meditasi, jiwanya melayang dan mengembara sejauh mungkin, mengelilingi alam malakut lalu Allah datangkan keberkatan berupa penyaksian berbagai kegaiban kepada Sang Pemilik Kalbu sehingga tentram ketika keberkatan itu datang (38).
Hidup semisal tidur, sebab, bangun dari kematian adalah kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan bersama Sang Pencipta adalah kehidupan yang paling diharapkan. Lantas, perihal apa yang akan kita persiapkan sehingga pada fase berikutnya menjadi kenyataan? Adalah tentang bagaimana diri menjadi pribadi yang dicintai oleh-Nya. Semua tergantung bagaimana kita mempersiapkan diri, mempersiapkan bekal untuk kehidupan berikutnya.
