Pengemis di Makam Sunan Gunung Jati

Kedua, soal pungli dan percaloan. Kami datang dengan niat ziarah, membawa semangat untuk menyambung ruh keislaman dari para ulama terdahulu. Tapi niat baik itu seperti terhambat oleh sistem yang tidak sehat. Pintu makam bukan lagi hanya gerbang spiritual, tapi juga gerbang bisnis. Tarif tak resmi, nego harga, dan pengelolaan yang semrawut menjadi pemandangan yang sangat ironis di situs religius seperti ini.

Pada akhirnya membuat saya merenung: mengapa ziarah harus diwarnai ketegangan semacam ini? Mengapa makam seorang wali, yang semestinya menjadi tempat perenungan dan mendekatkan diri, justru dipenuhi praktik transaksional yang menyulitkan orang untuk masuk?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebagai catatan saja, hanya di makam Sunan Gunung Jati ini yang benar-benar diwajibkan membayar untuk masuk ke dalam makam inti. Untuk di makam Walisongo yang lain hanya berupa infak seikhlasnya. Termasuk para pengemis yang begitu banyak hingga mengganggu para peziarah. Untungnya, waktu itu kami datang tengah malam, sehingga tidak terlalu banyak pengemis.

Entah hal semacam ini sudah menjadi budaya yang diajarkan dan dinormalisasi sejak dulu atau memang tidak ada ketegasan dari pihak berwenang. Ah, saya jadi teringat ucapan seorang pejabat di negeri ini, bahwa meminta-minta, khususnya untuk THR, adalah budaya kita.

Makam Sunan Gunung Jati adalah warisan spiritual. Tapi jika dikelola dengan semangat materialistik, nilai-nilai warisan itu bisa terkikis perlahan. Di tengah gelap malam Cirebon dan sunyinya kompleks makam, saya belajar bahwa kadang ziarah paling tulus bukanlah ke makam wali, melainkan ke dalam diri sendiri—menjaga niat dan sikap.

Tinggalkan Balasan