Kasus tersebut tidak hanya terjadi di bumi Amerika, melainkan juga terjadi di berbagai belahan dunia ketiga seperti Afrika, Asia, termasuk Indonesia. Semua kasus hampir mirip. Para penjajah melihat segala variabel jajahannya sebagai inferior. Dalam konteks manusia, subjek penjajah memotret terjajah untuk perlu diselamatkan dari kebodohan, perilaku primitif, mistik, biadab. Maka, proyek Kolonialisasi dilegitimasi menjadi proyek “Pemberadaban”. Sehingga, fakta penundukan berdalih pemberadaban terlihat sangat heroik.
Dalam sejarah kolonialisme sangat jelas bahwa ketimpangan terjadi di mana-mana. Bangsa terjajah dikeruk sumber dayanya, diperas rakyatnya, dimonopoli sistem ekonomi-sosial-politiknya, dihilangkan pengaruh budaya asalnya, dan lain sebagainya. Seakan subjek penjajah memiliki kontrol penuh atas subjek terjajah. Bangsa terjajah didefinisikan tanpa diberi kesempatan berbicara sepatah kata pun. Padanya, seringkali dengan relasi timpang colonizer (penjajah) dengan colonized (terjajah).

Poskolonialisme: Sebuah Gerakan Counter Epistemik
Berawal dari dimensi kesejarahan Kolonialisme yang timpang dan tidak berkeadilan memunculkan diskursus baru yang bertajuk “Poskolonialisme”. “Pos” dalam istilah ini bukan berarti suatu kelanjutan atau setelah dalam konteks waktu, melainkan lebih pada kritik atau ideologis. Jika “Pos” diartikan setelah, maka keberlangsungan kolonialisme sebagai wacana terus diafirmasi. “Kelanjutan” atau “setelah” lebih tepat menggunakan prefiks “Neo” ketimbang “Pos”.
Dalam hal epistemologi, poskolonialisme dianggap terlalu rumit, terlalu banyak jargon, buram dan jauh dari realitas keseharian. Hal itu diakibatkan karena poskolonialisme berangkat dari sifat interdisipliner inheren dalam studi tersebut. Objek kajiannya pun sangat luas, tidak berhenti pada naskah teoretik kesejarahan, melainkan juga pada naskah arsip kesejarahan, naskah medis, surat-surat, tradisi, riwayat perjalanan, bahasa, maupun teks kebudayaan.
Adapun, studi poskolonial berpacu dalam pengaruh-pengaruh atas proyek kolonial. Dengan dalih ketertindasan dan ketidakadilan yang dilakukan penjajah, studi poskolonial bersifat menggugat, mempertanyakan dan melawan apa yang diperbuat penjajah, dan kecenderungan negatif yang masih dirasakan sampai sekarang.
