Pengisi Jeding

Sudah hampir pasti, tak ada orang di desa saya yang berani menolak permintaan atau perintah Mbah Kiai ini. Kuwalat! Bahkan, banyak orang yang justru merasa senang jika disuruh-suruh atau diminta memberikan sesuatu. Bagi masyarakat desa kami, itu pertanda akan memperoleh barokahnya.

Karena soal barokah inilah, meskipun tak pernah mengajar mengaji atau menjadi imam salat, dan sehari-hari hanya mondar-mandir tak tentu arah, Mbah Kiai justru banyak tamunya. Banyak tamu yang datang dari jauh, dari luar kabupaten atau luar pulau. Macam-macam motif dan tujuannya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Banyak orang minta doa dan wasilah agar dilancarkan rezekinya, dan sebagainya. Di zaman ada nomor buntut, misalnya, banyak orang datang tujuannya ingin menang taruhan. Tentu saja Mbah Kiai marah. Ada orang yang dilempar sendal mukanya. Sepulang dari sowan ke Mbah Kiai, orang itu membuka buku ramalan, dicarinya nomor sendal. Dan, jeboolll bandarnya.

Nah, suatu hari bakda dhuhur, saat saya bersama anak-anak lain sedang bermain air di jeding pondok Mbah Kiai, ada seseorang bertamu. Orang tersebut, begitu tiba di lingkungan pondok, oleh Mbah Kiai tidak diajak masuk rumah, tapi malah disuruh mengisi jeding. “Isi yang penuh,” perintah Mbah Kiai, lalu pergi begitu saja.

Dengan pasrah, orang tersebut kemudian mulai menimba air dari sumur yang cukup dalam. Saat itu belum ada mesin pompa air. Yang ada hanya kerekan. Jadi, untuk mengisi penuh jeding itu, orang harus menarik ulur timba melalui kerekan. Bayangkan, jika bak mandinya sebesar jeding di pondok Mbak Kiai ini, perlu berapa timba untuk memenuhinya.

Tinggalkan Balasan