Dokter Liem

Poliklinik yang berdiri di atas tanah wakaf Kiai Sanusi tidak pernah sepi sejak dokter Liem membuka praktik di desa yang terpencil ini lima tahun lalu. Entah dengan alasan apa, dokter Liem mau-maunya berpraktik di desa yang jika dalam kalkulasi materi, jauh dari kata menguntungkan.

Penduduk desa ini mayoritas bekerja sebagai petani tradisional, berpikiran tradisional, dan menjalani kehidupan yang masih tradisional. Ketika mereka mendatangi dokter Liem untuk berobat, yang dibayarkan adalah upah recehan, jauh dari tarif yang seharusnya. Bahkan, terkadang mereka membayar dengan hasil panen; setengah karung beras, satu ayam jago, pisang setandan, telur bebek selusin, kelapa lima biji, dan bentuk keluguan lainnya. Dokter Liem tetap menerimanya, tidak menuntut, tetap mengulas senyum dan ungkapan terima kasih, serta ucapan, “Semoga lekas sembuh dan jangan lupa bahagia…”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dokter Liem tinggal dengan asistennya, Lik Sigit dengan istrinya, Bulik Sri warga pribumi, yang selalu setia menemani hari-hari dokter Liem. Jika stok obat habis, Lik Sigit kebagian tugas membeli di gudang farmasi kota. Bulik Sri mengurusi keperluan dan kebutuhan dokter Liem untuk memasak, mencuci, dan urusan rumah lainnya.

Dari Lik Sigit dan Bulik Sri, penduduk sedikit tahu riwayat dokter Liem. Istrinya telah meninggal, anak-anaknya telah sukses juga bekerja sebagai dokter di rumah sakit kota. Sementara alasan dokter Liem membuka poliklinik, yang Lik Sigit tahu, hanya ingin mengabdikan sisa umur dan kemampuan medisnya. Tidak lebih! Maka, kedatangan dokter Liem disambut ramah penduduk desa.

Inilah yang unik. Sebelum dokter Liem menangani pasien, selalu didahului sebuah percakapan singkat. Sekadar guyonan, celetukan untuk memancing tawa, menceritakan anekdot, atau sebatas menanyakan bagaimana kabar hewan ternak pasien di rumah. Tak ayal, penduduk sangat akrab dengan dokter Liem tanpa peduli asal-usulnya. “Jika orang berbuat baik, maka yang ditanyakan bukan agamanya, sukunya, atau darimana asalnya,” adalah pemeo yang pantas tersemat pada sosok dokter Liem.

“Kepala saya sakit, dok,” keluh Pak Sukarman, satu-satunya guru SD dengan status PNS di desa terpencil ini.

“Oo… sakit. Saya tahu sejak kapan sakitnya sebelum saya memeriksa,” dokter Liem memulai keakrabannya.

“Lo kok bisa dok? Memang sejak kapan saya sakit kepala?” Pak Sukarman bertanya.

“Biasanya manusia mengalami pusing ketika tanggal tua. Kalau tanggal muda biasanya akan sembuh sendiri.”

Jawaban dokter Liem membuat Pak Sukarman tertawa kecil, kemudian tawanya harus terhenti karena rentetan bersin mengikutinya.

“Lo… bersin juga ya? Saya juga tahu, sejak kapan Pak Sukarman mengalami bersin-bersin.”

Pak Sukarman sambil menyeka hidungnya dengan tisu terperangah, “Lo, dokter Liem kok bisa tahu juga, kapan mulai saya bersin?”

Dokter Liem mulai berkelakar, “Pak Sukarman bersin-bersin karena melihat kelas kotor, sampah di sekolahan kotor, rambut siswa yang acak-acakan, dan baju yang seringkali tidak dirapikan. Tapi, saya juga tahu kapan sembuhnya.”

“Kapan, dok?”

“Biasanya akan sembuh jika dapat tunjangan dan gaji tiga belasnya cair. Bersinnya akan hilang seketika.”

Pak Sukarman tersenyum tanda menyetujui. Dokter Liem memang pandai berakrab-akraban. Dengan siapa berbicara, tema yang akan dibicarakan, dan pilihan bahasa yang digunakan, cenderung sesuai dengan usia dan pengalaman pasien yang diajak berbicara.

“Ibu sakit apa?” tanya dokter Liem kepada Bu Darsih, pasien berikutnya.

“Ini dokter, kulit saya gatal-gatal. Lihat nih, sampai merah saya garuk-garuk,” jawab Bu Darsih sambil menggaruk tangannya.

Dokter Liem melihat tangan Bu Darsih, “Oo… ini. Saya tahu penyebab gatal-gatalnya.”

“Karena apa, dok? Makanan atau apa?”

“Bukan! Bukan karena makanan. Gatalnya ini disebabkan oleh tetangga Bu Darsih yang baru beli TV.”

“Ah, yang benar, dok?”

“Lo, benar. Gatalnya bisa akan bertambah. Kalau ada tetangga Bu Darsih beli kulkas atau beli baju baru, sepeda baru, gatalnya bisa gawat. Gatal ingin menyaingi, ha-ha-ha….”

Begitulah, dokter Liem di tengah kelakarnya, selalu menyelipkan nilai-nilai filosofis. Tetap lucu, namun selalu ada makna. Bu Darsih yang mendengarnya hanya cengar-cengir kuda, seperti tersindir.

Pasien terakhir hari ini tiba giliran, Lik Sigit memanggilnya. Tampak anak seumuran SMP datang sembari menggigil, koyo menempel empat di dahinya.

“Dokter, saya sakit demam, panas!” sambil menunjuk kepalanya.

Tinggalkan Balasan