Pengisi Jeding

Karuan saja, sampai beduk maghrib tiba, orang tersebut belum bisa membuat jeding Mbah Kiai penuh air. Tapi, saya melihat orang tersebut sabar menahan lelah, dan terus berusaha menimba air sekuat tenaga.

Saat maghrib tiba, orang tersebut berhenti menimba untuk salat. Entah sehabis maghrib diteruskan atau tidak, saya tak tahu karena harus pulang ke rumah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bertahun-tahun kemudian, saya sedang bertamu di rumah seseorang di lain kabupaten. Saat saya mengobrol dengan tuan rumah, seseorang datang bertamu. Kami pun berkenalan dengan tamu yang baru tiba itu. Ia adalah seorang juragan tembakau. Di daerah pusat penanaman tembakau, tentu juragan tembakau adalah orang yang kaya raya. Benar adanya. Ia adalah eksportir tembakau ke Jerman, yang sebagian keuntungannya dia gunakan untuk menghajikan orang-orang yang kurang mampu.

Saat saya menyebutkan dari mana saya berasal, sang tamu ini bilang pernah sowan ke pondok Mbah Kiai. Di sana, begitu dia bercerita, tidak diberi amalan atau didoakan, tapi malah disuruh mengisi jeding.

Subhanallah. Saya menatap tajam-tajam wajah orang itu: terbayang saat saya dan kawan-kawan sedang bermain air, orang yang kini berada di hadapan sayalah yang mengisi jedingnya.

Tinggalkan Balasan