Ketika kota kian hiruk di setiap sudutnya, langkahnya mulai gegas. Lebih lekas menyusuri banyak jalan. Lebih banyak menapaki kenangan. Kemudian ia terus meniup ke segala arah. Tapi jeritan terompetnya terdengar kian lirih. Lirih ditelan hiruknya kota yang kian gemuruh. Kota yang gaduh menyambut impian baru yang datang bagai teluh. Dan ia teringat Yasunari Kawabata: waktu mengaliri hidup dengan cara yang sama, tapi manusia mengaliri waktu dengan cara berbeda. Dalam hati ia mengaduh. Terlalu banyak orang lupa pada jejak yang ditinggalkan waktu berlalu.
Kemudian ia meniup terompetnya lebih keras lagi. Tapi yang keluar memang cuma suara yang itu melulu: tret-tret-teeet… lirih, serak, dingin. Barangkali tak ada yang mendengar kecuali dirinya sendiri. Barangkali tak akan ada yang terbangun dari mimpi. Lalu ia menepi, menjauh dari pusat gaduh. Ketika hitungan hari berganti, ia melihat sekerumunan orang mengelilingi seunggun api yang menjulang tinggi. Mereka menari. Menggumam. Nyanyi.

Di Pantai Lovina, untuk terakhir kalinya ia meniup terompet kertas itu: tret-tret-tret…tet-tet …. Ia tak tahu, entah untuk kehidupan siapa. Entah untuk kehidupan yang mana. Toh waktu akan tetap mengaliri hidup dengan cara yang sama —meskipun penanggalan telah berganti tahun.
