Tiga hari setelah Darto dikuburkan, ada ketukan di pintu. Keras, terburu-buru.
Pak Darman membuka pintu dan mendapati Pak Margo berdiri dengan napas yang tersengal-sengal.

“Mereka cari kamu,” katanya.
“Siapa?”
“Orang-orang kota.”
Pak Darman diam. Ia tidak bertanya kenapa. Ia sudah tahu.
“Kertas itu… mereka bilang ada sidik jarinya.”
Pak Darman menghela napas panjang. Ia menatap ke luar, ke jalan setapak yang membentang sepi. Di kejauhan, suara sepatu lars menggema. Pelan, tapi pasti mendekat.
“Pergi, Pak,” desak Pak Margo.
“Tidak ada gunanya.”
Bu Karsi keluar dari dapur dengan wajah panik. “Pak, ayo kita sembunyi…”
Pak Darman menggeleng. “Sampai kapan mau sembunyi?”
***
Di meja panjang itu, Pak Darman duduk dengan punggung yang lurus. Tangannya menggenggam cangkir teh yang masih hangat. Di luar, suara ketukan semakin keras.
Bu Karsi menangis pelan di sudut ruangan.
“Apa yang kamu tulis di selebaran itu, Pak?” tanyanya lirih.
Pak Darman menatapnya. “Hanya kata-kata yang sudah kita semua tahu.”
“Tapi kenapa?”
“Karena tidak ada yang berani mengatakannya.”
***
Ketika pintu didobrak dan orang-orang berseragam masuk dengan wajah yang kaku, Pak Darman berdiri tanpa perlawanan. Ia dijemput seperti seseorang yang memang sudah menunggu sejak lama.
Malam itu, di meja panjang yang sama, teh di cangkir itu mendingin. Dan di luar, anjing melolong lagi.
Orang-orang di kampung ini tahu, jika seseorang dijemput di malam hari, ia akan hilang.
Dan seperti biasa, pagi akan datang lagi — dengan bunyi jangkrik, dengan angin yang membawa bau tanah basah, dan dengan dingin yang menusuk di sela-sela jari.
Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Meja panjang itu, kosong. Dan ketakutan, entah kenapa, menjadi lebih senyap dari sebelumnya.
Malam-malam berikutnya terasa lebih sunyi dari biasanya. Meja panjang di sudut ruangan itu tetap ada, tetap berdiri di bawah lampu minyak yang cahayanya bergetar samar. Tapi tanpa Pak Darman, meja itu seolah kehilangan napas.
Bu Karsi duduk di ujungnya. Di depannya, cangkir teh yang tak tersentuh mulai mendingin. Matanya sembab, tapi tidak ada air mata lagi yang jatuh. Tangis, ia tahu, tidak akan membawa suaminya pulang.
Di luar, langkah-langkah kaki terdengar pelan di atas jalan tanah. Pak Margo datang dengan wajah yang penuh cemas.
“Bu… saya dengar mereka bawa ke kota,” katanya sambil menunduk. “Mungkin belum terlambat kalau kita coba cari tahu.”
Bu Karsi tersenyum tipis. Senyum yang getir. “Cari tahu buat apa, Pak Margo? Kita semua tahu, yang pergi tidak akan kembali.”
“Tapi…”
“Sudah terlalu sering kita dengar cerita itu.”
Malam itu, tidak ada lagi yang bisa dikatakan. Hanya suara jangkrik yang memecah kesunyian.
***
Kampung ini sudah kenyang dengan ketakutan. Dari kejauhan, selalu ada bayangan yang mengintai. Lurah Parto, dengan jeep hitamnya, masih sering berkeliling. Bukan untuk menyapa, tapi untuk memastikan semua kepala tetap menunduk.
“Ini semua demi ketertiban,” katanya berulang kali. Tapi ketertiban yang dipaksakan dengan rasa takut hanyalah senyap yang meledak di dalam dada.
Tiga hari setelah Pak Darman dibawa, ada kabar bahwa seseorang melihatnya di dalam truk besi, tangannya terikat, wajahnya lebam. Tapi kabar itu cepat menghilang, seperti kabar-kabar lainnya.
Bu Karsi tidak banyak bicara. Di pagi hari, ia tetap pergi ke pasar. Di siang hari, ia tetap menyapu halaman. Tapi malam harinya, ia akan duduk di meja panjang itu. Menunggu.
Tidak ada yang tahu apa yang ia tunggu.
