Penjamuan di Meja Panjang

***

Satu minggu berlalu. Selebaran itu muncul lagi. Kali ini bukan di bawah pintu, tapi di dinding langgar. Kata-katanya pendek, tapi tajam.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Berapa lama lagi kita akan diam?”

Orang-orang hanya membaca sekilas, lalu menunduk pergi. Mereka tahu apa artinya. Mereka tahu siapa yang akan dicari berikutnya.

Pak Margo mengetuk pintu rumah Bu Karsi pada malam itu.

“Bu… selebaran itu…”

“Saya tahu.”

“Bu… itu bukan dari Pak Darman, kan?”

Bu Karsi menatapnya. “Kalau pun iya, apa yang bisa kita lakukan?”

Pak Margo terdiam. Mereka berdua tahu jawabannya. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu.

***

Malam berikutnya, ketukan keras di pintu datang lagi. Bukan pintu rumah Bu Karsi. Pintu rumah Pak Margo.

Orang-orang berdiri di balik jendela, menyaksikan dalam diam ketika dua orang berseragam menyeret Pak Margo keluar. Istrinya menangis histeris, tapi tidak ada yang berani keluar membantu.

Ketika pagi datang, Pak Margo sudah tidak ada. Dan tidak akan ada yang bertanya ke mana ia pergi.

***

Waktu berjalan pelan di kampung ini. Hari-hari berganti, tapi rasa takut tidak pernah benar-benar pergi.

Hingga suatu malam, lampu di meja panjang itu padam. Bukan karena angin, tapi karena minyaknya sengaja dihabiskan.

Bu Karsi berdiri di depan pintu rumahnya. Tubuhnya kecil, tapi malam itu ia berdiri tegak. Di tangannya, ada selembar kertas yang ia genggam erat.

Ia berjalan pelan ke arah langgar. Jalan setapak itu gelap, tapi kakinya tidak ragu. Di dinding langgar, di tempat yang sama dengan selebaran sebelumnya, ia menempelkan kertas itu.

Kita tidak diam. Kita hanya menunggu giliran.

***

Keesokan harinya, seluruh kampung membaca tulisan itu. Dan pagi itu, sesuatu berubah. Tidak ada yang tahu siapa yang menulisnya. Tidak ada yang bertanya.

Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, orang-orang mulai menatap mata satu sama lain.

***

Lurah Parto datang dengan jeep hitamnya.

“Malam ini kita akan periksa semua rumah,” katanya. “Kita harus tahu siapa yang menulis ini.”

Orang-orang mengangguk. Seperti biasa. Tapi malam itu, tidak ada ketukan di satu pintu pun.

Tidak ada teriakan. Tidak ada suara langkah sepatu lars. Hanya senyap. Karena kali ini, tidak ada yang bersuara.

***

Malam berikutnya, selebaran lain muncul.

“Tidak ada yang perlu ditakuti kecuali ketakutan itu sendiri.”

Lurah Parto mulai marah.

“Siapa yang menulis ini?! Kalau tidak ada yang mengaku, kalian semua akan merasakan akibatnya!”

Tapi tidak ada yang mengaku. Karena kali ini, tidak ada yang tahu. Atau mungkin, terlalu banyak yang tahu.

***

Di meja panjang itu, Bu Karsi duduk sendirian. Tapi kali ini, ada senyum kecil di wajahnya. Di tangannya, selembar kertas baru sedang ia tulis.

“Tidak ada yang benar-benar hilang selama kita masih berani mengingat.”

Dan di luar, anjing melolong lagi. Bukan karena ketakutan. Tapi karena malam sedang berubah.

***

Malam terus berjalan. Pagi akan datang lagi — dengan bunyi jangkrik, dengan angin yang membawa bau tanah basah, dan dengan dingin yang menusuk di sela-sela jari.

Tinggalkan Balasan