Penjamuan di Meja Panjang

Malam datang seperti biasa: dengan bunyi jangkrik, dengan angin yang membawa bau tanah basah, dan dengan dingin yang menusuk di sela-sela jari. Di meja panjang itu, lampu minyak menggantung rendah, cahayanya temaram, bergetar samar-samar karena angin yang menyelusup dari lubang-lubang jendela.

Di ujung meja, duduk Pak Darman. Kepalanya menunduk dalam, tangannya menggenggam cangkir kopi yang sudah dingin. Asap tembakau dari lintingannya menggulung lambat, melayang, dan akhirnya lenyap di antara atap bambu. Ia tidak banyak bicara malam ini. Atau mungkin sejak lima tahun terakhir.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Dik Darto tadi dibawa pagi-pagi,” ujar Bu Karsi tiba-tiba. Ia menatap suaminya, tapi Pak Darman tidak menjawab. “Kata orang-orang, karena selebaran itu…”

Pak Darman hanya mengangguk kecil. Matanya masih menatap cangkir.

Selebaran itu. Selebaran yang ditinggalkan sembunyi-sembunyi di bawah pintu rumah orang-orang. Kertas kusut dengan huruf-huruf yang bicara soal harga beras, soal nasib buruh pabrik, dan soal mereka yang hilang tanpa pernah sempat berpamitan. Kabar burung atau bukan, semua orang tahu betul bahwa selebaran itu bisa jadi tiket menuju nasib yang tak keruan.

“Saya bilang sama Mbok Tun,” Bu Karsi melanjutkan dengan suara pelan, hampir berbisik. “Suruh dia buang saja kalau nemu. Jangan sampai ketahuan.”

Pak Darman mendongak. Ia menatap istrinya sejenak, lama, dengan mata yang entah menyimpan apa. Kemudian ia mengangguk lagi.

Di luar, anjing melolong jauh.

***

Orang-orang di kampung ini belajar bicara pelan. Kata-kata diucapkan seperti membagikan rahasia. Tidak boleh terlalu keras, jangan sampai melewati pagar bambu. Karena tembok di sini punya telinga, dan malam selalu lapar akan kabar baru.

Setelah salat isya di langgar, Pak Darman biasanya duduk sebentar di beranda. Matanya memperhatikan bayang-bayang di jalan setapak, mencari tanda-tanda sepatu lars yang berjalan beriringan. Ia tahu betul bagaimana bunyinya. Tepat jam dua malam, ketukan keras di pintu, dan dalam waktu yang lebih cepat dari tarikan napas, seseorang akan hilang.

Bukan rahasia lagi. Ini sudah biasa.

Sudah begitu sejak apa yang mereka sebut “penataan.”

Penataan yang membuat pasar jadi sepi, membuat orang-orang bicara dengan senyum yang kaku, dan membuat mata menunduk setiap kali mobil jeep hitam lewat di jalan utama.

“Mereka hanya mau ketertiban,” kata Lurah Parto beberapa bulan lalu.

“Kami sudah tertib,” jawab Pak Darman pendek.

Lurah Parto tertawa kecil. “Tidak cukup tertib.”

***

Pagi itu, Bu Karsi pulang dari pasar dengan wajah pucat.

“Ada apa?” tanya Pak Darman.

“Dik Darto…” Ia menelan ludah. “Tadi mayatnya dibawa pulang.”

Pak Darman diam. Ia tidak bertanya kenapa. Ia tidak perlu bertanya.

Kampung ini tahu. Kalau seseorang dibawa dan kembali dalam bentuk mayat, itu sudah penjelasan yang lengkap. Tidak ada yang berani bertanya lebih dari itu.

Setelah salat dzuhur, Pak Darman berjalan menuju rumah Darto. Ia berhenti di depan pagar bambu. Dari dalam rumah, suara tangis Bu Darto terdengar, tinggi, putus-putus, dan sesekali terhenti karena sesak di dada.

“Dia itu cuma tukang cat, Pak,” kata seseorang di samping Pak Darman.

Pak Darman menoleh. Itu Pak Margo, tetangga sebelah.

“Katanya bikin selebaran,” lanjut Pak Margo.

“Benar?”

“Entahlah.”

Lalu diam lagi. Seperti selalu, percakapan berhenti pada saat yang tepat. Terlalu banyak kata bisa mengantarkan maut.

***

Malam itu, di meja panjang yang sama, Pak Darman duduk dengan punggung yang agak bungkuk. Bu Karsi membawa teh hangat, meletakkannya di depan suaminya, tapi Pak Darman tidak menyentuhnya.

“Darto itu teman kecilmu, kan?” tanya Bu Karsi.

Pak Darman mengangguk.

“Kamu yakin bukan dia yang bikin selebaran?”

Pak Darman menatap istrinya. “Bukan dia.”

Bu Karsi mengangguk kecil, tapi wajahnya menyimpan sesuatu. “Kalau bukan dia… berarti orang lain?”

Pak Darman tidak menjawab.

Di luar, bayang-bayang malam makin gelap. Angin berdesir melewati daun pisang, dan entah kenapa malam ini lebih dingin dari biasanya.

***

Tinggalkan Balasan