Dalam hati Pak Huri tersenyum bangga ketika guru tersebut menceritakan anaknya. “Alhamdulillah, berkat didikan dan bimbingan guru-guru di sini Pak. Nanti titip salam dan terima kasih untuk semua guru-guru di sini.”
“Insya Allah, nanti saya sampaikan, Pak Huri. Eh, sebentar lagi anak-anak mau ujian nasional lo, Pak. Kira-kira, anak Pak Huri setelah lulus mau melanjutkan ke mana?” tanya guru tadi.

“Belum tahu saya, Pak! Ya terserah Mukhlis saja, saya sebagai orang tua manut-manut saja, asalkan biayanya saya mampu menanggungnya,” sembari Pak Huri menyerahkan dua bungkus pesanan guru tadi.
Sambil menerima bungkusan cilok dan menyerahkan uangnya, guru tersebut mulai memberi saran, “Sayang kalau Mukhlis tidak meneruskan, Pak. Mukhlis itu pinter lo, punya potensi. Harusnya cari sekolah yang favorit di kota misalnya kalau sambil mondok, waaahh… agama dan ilmu pasti dapat itu, Pak.”
Pak Huri mulai mengikuti alur arah pembicaraan ini, “Di kota ya, Pak? Apa tidak mahal ya? Kalau soal mengirim ke pesantren sebenarnya saya sudah kepikiran, tapi takut menawarkan kepada anak saya, nanti dikira saya maksa.”
“Untuk meraih yang terbaik memang butuh sedikit pengorbanan, Pak Huri. Kita sebagai orang tua wajib memberikan kail dan umpan bukannya ikan, bukan harta tapi dibekali dengan ilmu,” Pak guru itu dengan serius mencoba menerangkan.
“InsyaAllah, kalau begitu, Pak. Saya siap bekerja lebih giat lagi, terima kasih atas saran dan nasihatnya, sambil titip-titip anak saya ya, Pak,” Pak Huri memantapkan niatnya.
“Nah, inilah sebenarnya tadi tujuan saya mendekati bapak, selain cilok ini tentunya. Hehehehe….”
“Terima kasih banyak, Pak. Nanti kalau anak saya lulus ujian, saya akan mentraktir semua guru di sini dengan cilok buatan saya. Ini nadzar saya,” sambil tersenyum Pak Huri menegaskan kembali niatnya.
Begitulah, percakapan singkat tadi membuat Pak Huri berpikir bahwa harus ada yang dilakukannya. Harus berbuat sesuatu yang lebih demi masa depannya. Maka, Pak Huri menyimpulkan bahwa ia harus menambah jumlah biji ciloknya untuk dijajakan. Dengan lokasi dan waktu yang juga harus ditambah. Pagi, sore, dan malam hari, demikian Pak Huri menambah durasi waktu kelilingnya. Yang semula membuat cilok 300-500, kini dibuatlah menjadi 500 sampai 800.
“Ini juga demi pelanggan saya yang beberapa kali protes karena tidak kebagian cilok saya,” pikir Pak Huri.
Cilok Pak Huri semakin populer, semakin menguasai pasar, semakin pula bertambah penghasilannya. Anaknya yang telah lulus SD dikirimkannya ke kota untuk bersekolah sekaligus mondok. Semakin kewalahan Pak Huri melayani pembeli saking larisnya.
Penjual cilok lain merasa tersaingi. Ada yang ganti wilayah keliling, ada yang banting setir berganti jualan lain atau alih profesi. Bahkan ada yang mencibir bahwa cilok Pak Huri laris karena pakai dukun, di kualinya ada celana dalam jin, Pak Huri pakai jimat penglaris, hingga memelihara perewangan jin untuk membantunya. Pak Huri pun bergeming dan tetap menjajakan ciloknya.
Dengan bantuan kredit bank, kini Pak Huri memiliki lima gerobak cilok. Wilayah jajahan kekuasaan ciloknya juga semakin meluas. Menyikapi bahan-bahan yang semakin mahal, Pak Huri sedikit menyiasatinya. Menebalkan kulit kanji dan dengan isi daging yang dikurangi. Saus kacang dan sambal yang ditambah kadar airnya juga menambah varian cilok dengan beragam rasa: cilok orisinal, cilok bakar, cilok pedas level, cilok rasa coklat, cilok rasa strawberi, sampai-sampai cilok rasa jahe dan peppermint pun juga ada. Wow!
Istrinya sedikit memprotes setelah ia mengetahui sedikit kelicikan yang dilakukan suaminya. “Pak Ne, mbok ya ciloknya dibuat seperti dulu saja. Biar barokah, aku takut nanti kalau pelanggan kita kecewa terus Allah menguji kita.”
Mendengar protes istrinya, Pak Huri mulai pudar keluguannya. “Kamu ngerti apa? Aku kan tidak ndukun, tidak aneh-aneh, hanya mengurangi beberapa bahan saja. Toh, kini pelangganku semakin bertambah banyak. Jadi intinya Allah itu meridhoi usahaku.” Istri Pak Huri diam saja mendengar jawaban suaminya. Sambil terus berdoa agar suaminya kembali ke jalan yang benar.
Pak Huri kini sudah menjadi bos cilok. Anak buahnya yang berkeliling juga ada. Dua pegawai yang membantunya membikin cilok. Pak Huri hanya menerima setoran sambil marah-marah ketika ada anak buah yang setorannya kurang.
Setelah yasinan rutinan malam Jumat, Pak Huri tampak kesal memasuki rumahnya. “Apa dikira aku ini sudah kaya beneran, menyuruh-nyuruh ko gak mandang, sak karepe, sak penak e udele dewe kalo ngomong,” Pak Huri melampiaskan kekesalan kepada istrinya.
