“Ada apa to Pak, pulang-pulang yasinan kok emosi?” tanya istrinya menyelidik.
“Itu tadi lo, di yasinan ada ceramah singkat dari Haji Somad. Katanya perlunya haji bagi yang sudah mampu, karena akan menyempurnakan rukun iman. La, itu jelas nyindir aku to Bune,” Pak Huri menjelaskan sebab kekesalannya.

“Gitu to Pak, ya ndak apa-apa kalau merasa tersindir. Berarti Pak Ne paham maksudnya, tersindir berarti melakukan. La wong ceramahnya ke seluruh jamaah, ndak ke Pak Ne saja to?” istri Pak Huri mencoba menenangkan atau lebih tepatnya menuangkan bensin ke api menurut Pak Huri.
“Halah! Kamu itu sama saja Bu, malah tidak membela aku.”
“Bukan begitu Pak, siapa tahu dengan berhaji usaha kita dapat barokah, tambah laris, karena ikhlas sudah melakukan haji,” sang istri mencoba menenangkan kembali.
“Ehmmm…, benar juga ya. Apalagi nanti di rombong tak tulisi ‘Cilok Haji Huri’, pasti akan menambah wibawaku,” pikiran Pak Huri menerawang.
Segera Pak Huri mendaftarkan haji ke KBIH terdekat, lewat jalur VIP alias ONH plus, agar tidak berlama-lama menunggu jadwal pemberangkatan karena kuota yang terbatas. Cukup menunggu satu tahun Pak Huri pun berangkatlah ke tanah suci untuk menunaikan haji. Tak lupa ia membawa uang saku yang banyak, takut kalau-kalau di sana ingin apa-apa. Ia membawa Rp 150 juta lebih dalam tasnya. Memang, Pak Huri lebih menyenangi uang kontan daripada memakai uang elektronik, lebih praktis alasannya. Berangkat Pak Huri memenuhi panggilanNya. Labbaikallahumma labbaik…
Rangkaian ibadah haji selesai dilaksanakan. Haji Huri pun juga selesai merampungkan ritual-ritual dalam haji. Lancar tiada kendala. Suatu ketika Pak Huri bersama dua teman sekloter Haji Muin dan Haji Suib sebelum berangkat pulang menemui rekan kloter lainnya, Haji Toyib di Rumah Sakit entah karena apa belum jelas. Haji Muin memulai obrolan, “Eh, kamu ini kenapa? Kena musibah apa ko sampai lebam begini, sampai dibalut perban banyak gitu?”
Sebelum menjawab, Haji Suib sudah menyahut, “Jangan-jangan kena karma! Seperti orang-orang bilang, bahwa ada sebagian besar ketika haji akan menemui balasan terhadap dosa yang dilakukan sebelumnya.” Haji Suib melanjutkan, “Kemarin ketika selesai wukuf aku tersesat. Tidak tanggung-tanggung sampai menggelandang dua hari di kantor polisi karena aku kesulitan menjelaskan. Mungkin karena dulu aku pernah ada orang yang bertanya alamat terus tak tunjukkan arah yang salah, la pikirku ya guyon.”
Haji Muin terperanjat, “Ehhh…sama! Ketika lempar jumrah kepalaku kena lemparan batu berkali-kali. Bukan hanya itu, setelah tak amati, la kok kerikil yang mengenai kepalaku ukurannya lumayan besar, berbeda dengan kerikil-kerikil lain, sampai berdarah. La ini masih benjol-benjol,” sambil menujukkan bekas hitam di bagian belakang kepalanya Haji Muin.
“Apa iya ya?” tiba-tiba Haji Toyib menimpali. “Aku begini karena terinjak-injak ketika dijemarat. Tiba-tiba seperti ada yang menjegal kakiku, aku jatuh terus ya begini ini akibatnya. Kalau Haji Huri sendiri bagaimana?”
Haji Huri yang dari tadi diam setengah kaget menjawab, “Alhamdulilllah, semuanya lancar! Tidak ada apa-apa.” Jumawalah hati Haji Huri, ia merasa semakin mantap bahwa usahanya mendapatkan rahmat. Buktinya ia tidak mendapatkan balasan apa-apa yang menurut kegita haji tadi.
“Sebentar lagi kita pulang ke tanah air ya. Ingat! yang kita obrolkan tentang balasan tadi jangan bocor ya, jangan ceritakan ke orang-orang, bisa jatuh wibawa kita nanti,” usul Haji Toyib dibarengi persetujuan dari tiga haji lainnya. Namun, Pak Huri setengah berteriak, “Wayahe…wayahee…”
Tiga haji tadi serempak, “Wayahe opo?”
“Wayahe bertobat!” jawab Haji Huri disambut tawa dari tiga haji temannya.
Rombongan haji Huri tibalah di tanah air. Terbersit Haji Huri sebelum pulang ingin menemui saudara-saudaranya. Ia ingin menunjukkan bahwa pedagang cilok sudah naik haji sudah menuntaskan rukun Islam yang lima. Haji Huri pun menelepon istrinya untuk tidak menjemputnya. Ia akan pulang 2-3 hari lagi. Terdengar kecewa suara istrinya, tanpa Haji Huri tahu bahwa istri dan tetangga-tetangganya telah menyiapkan segala sesuatu untuk menjemputnya.
Haji Huri berangkatlah ke saudaranya di Lampung. Ia memilih kapal laut. Haji Huri sebenarnya alergi laut, jadilah ia di kapal mabuk laut. Pandangannya berkunang-kunang, sedikit pusing. Perutnya mual seperti diaduk-aduk mixer. Berjalan pun limbung. Saat hendak ke toilet, Haji Huri menyusuri dek kapal, tapi tiba-tiba gelombang ombak laut datang menghantam. Kapal pun oleng. Haji Huri yang limbung berjalan hampir jatuh, segera berpegangan pada pagar pembatas kapal. Malaikat penyampai wahyu dengan sigap mengendorkan tali tas Haji Huri. Tas berisi uang Rp 100 juta itu pun segera meluncur ke laut tanpa Haji Huri bisa menangkapnya.
Haji Huri termangu, lemas, sendirian tanpa ada yang mengetahui kejadian tersebut. Sayup-sayup dari kabin kapal terdengar azan ashar berkumandang. Namun, bukan azan yang didengar Haji Huri, tapi suara yang sepertinya dipantulkan kembali oleh kebiasaannya, “Wayahee… wayaheee… wayahe bertobat!”
