Penjual Es Krim dan Gadis Berkerudung Merah

Keesokan hari dan untuk beberapa bulan setelahnya, perempuan itu kerap mendatangi taman, sendiri. Terkadang dia datang bersama kawannya. Di tempat yang sama, dia duduk. Hari itu, dia mencari-cari sesuatu. Lelaki itu menjajakan es krim tak jauh darinya, menghampirinya dengan senyum semringah.

“Ini punyamu. Kemarin, kau meninggalkannya.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mata perempuan itu membesar, tapi dia dapat menyembunyikan suasana hatinya. Mula-mula dia canggung saat membuka map miliknya itu.

“Terima kasih,” katanya. Dan terjadi keheningan untuk beberapa jenak. Keterdiaman masing-masing pecah saat seorang anak kecil digandeng ibunya memanggil si lelaki. Dia mau beli balon dan es krim. Dia bergegas. Perempuan itu menatap dengan tatapan yang tak dapat dijelaskan. Perlahan, dia mendekat. Sejak hari itu, mereka berteman dan saling kenal satu sama lain. Kali ini, si lelaki punya alasan untuk datang lebih awal dan berlama-lama di taman.

Terkadang, perempuan itu membantunya. Dia bermain bersama anak kecil yang datang untuk membeli es krim atau balon. Dia juga membelikannya buat anak-anak yang bermain. Dia suka anak-anak. Melihatnya, si lelaki merasa terhibur tanpa alasan. Dia menepis jauh-jauh pertanyaan konyol yang hampir dilontarkannya, tentang dokumen yang dia temukan. Gara-gara kehadiran perempuan yang kini dikenalnya, es krim dan balon yang dijualnya  laris manis. Ini berkah, anggapnya.

Suatu sore, gerimis turun tak sampai menjelma hujan. Mereka berteduh di gazebo setelah si lelaki merentangkan payung besar untuk melindungi gerobak serta barang dagangannya.

“Menurutmu, mengapa Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan?” kata perempuan itu sembari menjilat es krim. Meski gerimis turun, wajahnya tertimpa cahaya mega. Gerimis yang lewat saja, pikirnya.

“Karena Tuhan tahu, manusia tak dapat hidup sendiri.”

“Kalau begitu, mengapa terkadang manusia merasa hidup sendiri meski memiliki pasangan?”

Si lelaki menelan ludah. Jakunnya naik turun.

“Karena hanya orang yang tidak bahagia yang merasa hari-harinya selalu sama.”

Perempuan itu tertegun, mencerna kata-kata lelaki di sampingnya.

“Apa kau bahagia?” tanyanya, dan perempuan itu menatapnya, lekat. Lalu, wajahnya berpaling. Lesung pipit di pipinya menenggelamkannya. Dia membalas.

“Ya. Aku bahagia.”

Dia pun bangkit. Pandangannya memendar langit. Gerimis belum reda. Dia pergi dengan memayungkan tangannya ke kepala. Si lelaki hendak mencegat, tapi langkah perempuan itu gegas. Terkadang, dia  pulang melalui arah datangnya perempuan itu dan berharap bertemu dengannya di jalan, tapi dia selalu terkecoh. Perempuan itu tak dapat ditebak arah datang atau perginya, selalu bertolak belakang. Pernah suatu ketika, si lelaki mencari cara agar bisa pulang searah dengannya. Namun, dia terhalang gerobaknya sendiri. Lagi pula, perempuan itu berjalan terlalu cepat.

Entah sudah berapa bulan perempuan itu bersamanya dan mereka saling melengkapi kesepian masing-masing. Perempuan itu terhibur dengan anak-anak dan si lelaki senang berada di sampingnya. Dia berandai-andai. Seandainya dia bisa menjadi pasangan perempuan itu, mungkin dia tidak akan merasa kesepian. Dia pun bertekad mengumpulkan uang untuk membeli cincin buat perempuan itu.

Beberapa hari setelahnya, si lelaki bersemangat mencari uang, menabungnya, hingga dia kerja paro waktu sebagai pencuci piring di salah satu restoran mini tak jauh dari tempatnya tinggal. Tak dinyana, uang yang dikumpulkannya hampir cukup untuk membeli cincin yang dia bayangkan akan melingar di jari manis perempuan itu.

Tinggalkan Balasan