Penjual Es Krim dan Gadis Berkerudung Merah

Namun, meski dia merasa perempuan itu juga jatuh hati padanya, hati ada kemungkinan selalu berubah dan untuk keberkian kalinya, dia sadar. Dia lupa cara membca tanda-tanda itu. Dia tak lagi melihat perempuan itu di taman penuh lampion di bawah bukit. Dia juga tidak mendapatinya duduk di tempat kesukaannya. Setelah berhasil mengumpulkan uang dan membeli cincin, akankah dia bisa meminangnya? Dia bertanya-tanya dalam hati. Namun, bukan itu persoalannya. Dia khawatir dirinya ditolak. Kenangannya bersama seorang perempuan di masa lalu, membuat nyalinya ciut sebentar saja. Namun, lelaki kita ini pantang menyerah. Dia meneguhkan hati dan berasumsi bahwa perempuan itu tidak tampak batang hidungnya mungkin gara-gara taman lampion ini kerap banjir setelah pemerintah membangun jalan baru menuju bukit dan menutup jalur irigasi hingga air hujan tumpah ruah, menggenangi taman lampion di bawahnya.

“Pemerintah kayak tidak ada kerjaan saja. Selalu buat proyek. Padahal, akses menuju bukit masih bagus,” Gumamnya, menganalisis sendiri. Atau jangan-jangan, perempuan itu sudah menemukan lelaki lain dan hidup bahagia seperti dongeng putri raja menemukan pangerannya? Ah, tidak. Dia membuang pikiran itu. Dia memasukkan cincin ke dalam saku celananya yang gombrong. Dia berjalan, mencari tempat baru untuk menjual es krim dan balon. Namun, tak ada tempat yang lebih baik selain taman itu. Dia bersikap seobjektif mungkin tanpa ada pengaruh seorang perempuan berkerudung merah muda pernah masuk dalam hidupnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Akhirnya, dia berkeliling menjajakan barang dagangannya. Dia mengitari kompleks berpagar tinggi menjulang di sepanjang jalan yang dilaluinya. Dia berharap akan bertemu dengan perempuan itu lagi. Sampai suatu hari, seorang perempuan membuka pagar, mamanggil-manggil penjual es krim yang tak lain adalah si lelaki itu. Mereka sama-sama terkejut, terlebih dirinya. Perempuan itu muncul tanpa disangka-sangka lalu hilang tiba-tiba, tanpa kabar. Dan kali ini, perempuan itu muncul kembali. Pipi mereka merona.

“Kamu tinggal di kompleks ini?” tanyanya sambil melayani permintaan perempuan itu. Dia membeli tiga es krim.

“Ya.”

Beberapa jenak, mereka terlihat canggung. Dia membuka dompet. Saat dia mau membayar, si lelaki hendak mengeluarkan cincin dari saku celananya, tapi tak jadi. Dia memiliki firasat tak nyaman. Mengapa perempuan itu membeli tiga es krim? Sejak kepergian perempuan itu, dia mulai belajar membaca tanda-tanda kedatangan dan kepergian perempuan itu dalam hidupnya.

“Tumben, kok beli tiga?” tanyanya.

“Ya. Ini untuk…” Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, gadis kecil yang memiliki mata yang sama seperti matanya berlari ke arahnya dan meraih es krim dari genggamannya. Gadis kecil itu pasti bayi yang ada dalam foto yang dia temukan dulu, pikirnya. Namun, dia terbelalak saat gadis kecil itu berlari ke dalam rumah dan berhambur kepelukan seorang lelaki yang tak asing baginya. Lelaki itu pernah menjadi penjual es krim dan tinggal sekontrakan bersamanya. Lelaki yang dulu bilang mau cari kerjaan lain sebab menjadi penjual es krim amat melelahkan. Perempuan itu pun pamit. Dia teringat momen kepergian temannya itu.

“Aku mau cari kerjaan lain. Menjadi penjual es krim amat melelahkan. Kalau aku dapat pekerjaan layak, aku akan segera menikah.”

“Kenapa tidak menikah dengan perempuan kaya saja?” Mereka tertawa.

“Kau meledekku. Suatu hari, kau akan tahu, siapa yang bakal aku nikahi.”

“Perempuan kaya, biar kau juga kaya,” kelakar si lelaki dan mereka berpelukan . Andi, temannya itu, benar-benar pergi.

Penjual es krim itu melanjutkan perjalanannya. Kini, gemuruh kembali bertakhta di dalam hatinya. Dia membuang cincin yang dibelinya ke tong sampah. Belum jauh dia melangkah, dia kembali mengambil cincin itu. Dia ingat kerja kerasnya untuk mendapatkannya.

“Bisa aku jual kembali cincin ini untuk membangun usaha lainnya,” Gumamnya. Dia meneruskan perjalanan, menjaja es krim, membiarkan sound system mini melantunkan lagu kesukaan anak-anak, di sepanjang kompleks dan membiarkan hari-harinya berlalu seperti biasa.

Dan manakala kau tanyakan isi hatinya di suatu hari, ia hanya memberikan air mata sebagai jawaban.

Lubangsa, 05 Mei 2023.

Catatan:

  1. Penggalan puisi Ahmad Syauqi, Tanyakan Hatiku yang diterjemahkan M. Faizi, dimuat di sastraarab.com Penulis mengubah jadi tanyakan hatinya untuk kepentingan cerita.
  2. Dikutip dari Sang Alkemis, karya Paulo Ceulho.

Tinggalkan Balasan