Pentingnya Membaca Sebelum Menulis

Kita boleh saja memiliki ambisi atau nafsu besar untuk menulis, untuk menjadi penulis. Tapi, nafsu besar atau ambisi itu jangan sampai mengalahkan atau mengubur hasrat kita untuk membaca, mengeringkan dahaga kita akan pengetahuan. Jika kehabisan hasrat untuk membaca, kita tak akan sampai ke sana: menulis, menjadi penulis.

Hal-hal itu juga berlaku bagi penulis duniasantri. Berdasarkan pengalaman membersamai gerakan santri menulis di duniasantri lebih dari lima tahun, masih banyak dijumpai tipe yang nafsu menulisnya besar, tapi hasrat membacanya sekarat. Hal itu bisa dikenali dari cara para penulis tersebut mengirim naskah atau memilih tema atau kualitas tulisannya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Misalnya, ujuk-ujuk ada penulis baru mengirimkan satu puisi, kemudian minta kepastian kapan sebiji puisinya tersebut dimuat. Alamak! Jika sebelumnya ia telah membacai puisi-puisi yang telah dirilis di duniasantri, tentu hal itu tak akan terjadi. Minimal penulis tersebut akan mengirimkan lebih dari tiga puisi agar redaksi punya pilihan dalam melakukan kurasi.

Contoh lain, penulis lain mengirimkan naskah untuk rubrik sosok. Padahal, sosok yang ditulisnya sudah pernah dimuat di duniasantri yamg ditulis oleh penulis lain. Artinya apa? Kemungkinan ia tak membaca tulisan-tulisan serupa yang ditulis penulis lain di duniasantri. Kerja menulisnya menjadi sia-sia lantaran ia tak membaca sebelumnya.

Ada banyak contoh-contoh seperti itu, yang semuanya terjadi akibat kemalasan membaca dari para penulis. Inginnya hanya menulis dan tulisannya dibaca orang lain tanpa ada resiprokasi dengan tekun membacai karya-karya penulis lain. Fenomena ini akan kurang menyehatkan untuk pengembangan gerakan literasi.

Tinggalkan Balasan