Penutupan Rutinan Ngaji Kemis Legi di Lirboyo

Suasana khidmat bercampur rindu menyelimuti Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, pada Kamis Legi (8 Januari 2026). Ratusan alumni dari berbagai daerah kembali berkumpul dalam penutupan Pengajian Rutin Kemis Legi Kitab Al-Hikam periode 1446–1447 H.

Perubahan jadwal yang sempat terjadi sejak Desember tidak menyurutkan antusiasme mereka. Sejak pagi hari, alumni berdatangan membawa kitab, dengan satu niat yang sama, yaitu: meneguhkan kembali pelajaran yang tidak hanya mengisi pikiran, tetapi membentuk arah hidup.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Majelis dimulai pukul 08.50 WIB dengan tahlil dan doa bersama untuk para masyayikh Lirboyo yang dipimpin Romo KH Muhammad Anwar Manshur. Suasana hening dan tertib mengiringi pembuka majelis, seolah mengingatkan bahwa pengajian ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan ziyadah ruhiyah—penambahan bekal batin—dalam mata rantai sanad keilmuan yang terus terjaga.

Tak lama setelah itu, pembacaan Kitab Syarh al-Hikam karya Syaikh Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari dimulai. Dengan tradisi maknani gandul yang khas pesantren, setiap kalimat dibaca perlahan, dimaknai, dan dicatat di sela-sela teks Arab oleh para jalemaah. Sebuah ikhtiar agar hikmah tidak berhenti sebagai wacana, melainkan meresap ke dalam kesadaran.

Pada pertemuan penutup ini, pembahasan mengerucut pada hikmah yang terasa relevan dengan kondisi keilmuan hari ini:

العلم إن قارنته الخشية فلك وإلا فعليك

Ilmu, jika disertai rasa takut (kepada Allah), maka ia akan menjadi penolong bagimu. Namun jika tidak, ia justru akan menjadi beban yang menuntutmu.

Dari kalimat singkat namun padat makna tersebut, penjelasan berkembang tentang dua arah ilmu. Ada ilmu yang melahirkan kerendahan hati, kehati-hatian, dan khasyah—rasa takut yang melahirkan tanggung jawab. Sebaliknya, ada ilmu yang justru menumbuhkan rasa aman semu, kepercayaan diri berlebihan, dan kebanggaan intelektual. Pada titik inilah alumni diajak bercermin: apakah ilmu yang dimiliki dan disebarkan masih menjaga khasyah, atau perlahan bergeser menjadi alat pembenaran diri, perdebatan, dan pencarian legitimasi.

Di tengah realitas sosial yang kerap menampilkan ilmu sebagai komoditas popularitas dan penguat ego, pengajian Al-Hikam hadir sebagai penyeimbang. Ia mengingatkan bahwa hakikat ilmu bukan untuk meninggikan diri, melainkan membimbing sikap, menata niat, dan menjaga adab dalam kehidupan bermasyarakat.

Pengajian berakhir sekitar pukul 10.00 WIB. Meski tidak berlangsung lama, suasana majelis meninggalkan kesan mendalam. Bagi para alumni yang kini menapaki berbagai medan pengabdian, Kemis Legi bukan sekadar ruang silaturahmi, tetapi juga tempat menyelaraskan kembali niat dan tanggung jawab keilmuan di tengah kompleksitas zaman.

Tradisi Ngaji Kemis Legi Kitab Al-Hikam telah berlangsung sejak 2002, berangkat dari kerinduan para alumni akan bimbingan ruhani khas pesantren. Kitab ini mula-mula dibacakan oleh almarhum Romo KH Idris Marzuqi, lalu diteruskan oleh Romo KH Muhammad Anwar Manshur hingga hari ini. Estafet tersebut menjadi penanda bahwa Lirboyo tidak hanya menjaga tradisi literasi kitab, tetapi juga merawat ruh ilmu yang diwariskan.

Penutupan periode ini kembali menegaskan satu prinsip penting: di balik keluasan dan kedalaman ilmu, harus selalu hadir khasyah yang membimbing, bukan rasa aman yang justru melalaikan.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan