Nyala matahari menyingsing, rumah Pak Herman tidak terlihat sepi seperti biasanya. Meski Damar keluar, entah ke mana, semantara Buk Fatma berjualan di pasar tak jauh dari rumahnya. Pak Herman yang biasanya aktif menjadi loper koran, sudah beberapa hari memilih untuk cuti. Sebab, kakinya yang tertimpa batu bata masih terasa sakit buat berjalan.
Lantai kamar begitu kotor. Pak Herman yang membaring tubuhnya di ranjang merasa risih melihatnya. Ia membersihkan dan merapikannya semuanya. Tak sengaja, ia melihat di balik bantal milik istrinya, buku tebal bertuliskan puisi, yang ditulis dengan darah. Ia membacanya beberapa bagian, bahwasanya istri yang telah dua puluh satu tahun ia nikahi, tidak pernah mencintainya. Istrinya berjanji kepada lelaki cinta pertamanya akan kembali kelak setelah waktunya tiba.

“Damar benar, ia tidak tolol. Aku yang tolol, kenapa perempuan yang aku cintai menipuku dengan cinta, bajingan!” ucapnya dengan buku di tangannya. “Ini salah satu alasan logis Damar, tidak mau menikah dengan perempuan sekarang ini.”
Pak Herman teringat atas apa yang di katakan Damar. Sangat terpukul jiwanya, kemudian ia membereskan semua pakaian dan memasukkan ke dalam bundelan kain. Ia pergi meninggalkan rumah dan keluarganya, tanpa sepucuk surat pun yang ditinggalkannya.
***
Sepuluh tahun berlalu. Bu Fatma telah menikah dengan laki-laki yang ia tulis dengan rahasia dalam puisinya. Damar juga telah menikah, namun tetap saja ia merasa hambar. Sebab ada yang kurang, karena melihat ayahnya tak ada dalam pesta pernikahannya. Sosok ayah yang selalu menjadi motivator hidupnya. Semua ia rasakan sangat berbeda.
Sementara, Pak Herman mengembara selama enam tahun lebih bersama puisi-puisinya yang ia tulis. Ia seakan terkutuk menjalani hidup. Ratusan puisi telah diciptanya. Puisi-puisinya ia tulis di atas kertas bungkusan nasi. Kemudian membuangnya secara cuma-cuma ke sungai yang mengalir begitu deras. Hingga pada akhirnya ia terkapar di tepi sungai yang jauh dari keramaian: meninggal!
***
Di bawah rindang kamboja, Damar merenung, berdua dengan istrinya, Arsy.
“Seandaikan ayah ada, mugkin kita tidak akan haus motivasi menghadapi kehidupan dunia yang fana ini,” ucap Damar menatap tajam ke arah langit.
“Aku sangat kenal Pak Herman, selain sekarang adalah mertuaku, beliau juga mahaguru sastra yang sering kali dipuja,” sahut istrinya.
Damar menatap lekat mata istrinya. “Ayahku pernah mengajarmu?” tanyanya.
