Penyair Itu Suamiku

“Ayah…, Ibu…! Aku menemukan tulisan yang tertera nama nenek, Fatma,” ucap Panji, terengah-engah.

Damar tidak bisa memahami sastra: puisi. Ia menyuruh istrinya membacakannya. Istrinya menangis saat membacanya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Hatiku sangat tersentuh membaca puisi ini,” ucap Arsy setelah membacakan beberapa puisi. “Ini adalah puisi dengan jiwa sastra melebihi tingkat dewa, ini akan meruntuhkan air mata para pembaca. Penyair ini sangat menderita, atas kehilangan sesuatu yang berharga dalam dirinya. Sehingga ia harus rela menjalani hidup bertahun-tahun jauh dari kata sempurna dengan luka-luka dalam dadanya yang jadi bebannya.”

“Ayah!?” ucap Damar.

“Tulisan ini mirip sekali dengan dengan milik Pak Herman: ketat dan pesannya kuat. Apalagi terdapat nama Bu Fatma, istrinya.”

“Aku tidak tahu kenapa ayah pergi, tanpa memberitahuku,” ucap Damar dengan wajah yang sangat murung dan kaku. “Apa yang akan kita lakukan terhadap puisi-puisi ini?” tanya Damar kepada istrinya.

“Bagaimana kalau kita terbitkan saja puisi-puisi ini, dengan mengajukan ke penerbit agar bisa dibukukan?”

***

Enam bulan setelah puisi-puisi itu berhasil dibukukan dan diterbitkan Banyak perbincangan yang dari kalangan kritikus sastra, bahkan puisi-puisinya dicetak ulang dan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing.

Bu Fatma, salah seorang penikmat dan penulis puisi, merayakan hari ulang tahunnya yang ke-49 dengan sangat spesial dirayakan di hotel berbintang lima. Suaminya yang juga seorang penulis terkenal, menghadiahkan kado berisikan buku kumplan puisi terbaru dan terkenal, tak lain adalah karya Hermansyah AD.

Ia membuka kado spesial itu. Ia tak melihat nama penyairnya. Ia hanya membaca beberapa larik puisi pertama, lalu menangis sejadi-jadinya di hadapan ratusan orang yang menghadiri acara ulang tahunnya. Tiba-tiba saja, ia pingsan dan tak sadarkan diri.

Beberapa jam kemudian, ia sempat terbangun dan mengatakan. “Herman pergi, sebab ia membaca puisi-puisi yang aku tulis dengan darah,” katanya lirih. Sebelum pada akhirnya ia mengembuskan napas terkahir, terucap dari bibirnya yang kelu: “Penyair itu suamiku,” sambil memegangi buku kado dari suaminya.

Tinggalkan Balasan