Penyiar Pujaan

Tetapi tidak demikian halnya yang dialami Neruda dalam novel Antonio Skarmeta. Orang-orang tersisih yang buta huruf menyayangi Neruda. Buku-buku puisinya dimiliki atau dibeli banyak orang yang buta huruf itu, tentu saja tidak untuk dibaca. Melainkan dipajang di almari rumah mereka sebagai bukti kebanggaan dan rasa hormat mereka terhadap penyair yang konsisten membela kepentingan yang tertindas, bukan menjadikan ketertindasan dan nasib orang-orang tertindas itu sebagai “komoditas intelektual”, melainkan ia pun hidup dan mengalami ketertindasan itu sendiri di dalamnya, dengan harus menerima risiko politik dalam pembuangan.

Di pulau terpencil itu, Neruda menulis dan membaca. Ia menerima atau berkirim surat setiap pekan. Ia berkawan karib dengan seorang pemuda pengantar surat. Mario Jimenez namanya. Pemuda yang ingin hidup berharga. Neruda menggembleng Jimenez untuk mendapatkan perempuan pujaannya dengan bahasa. Ia berhasil menaklukkan perempuan pujaannya itu. Itulah keberhasilan, lantaran Jimenez menjatuhkan hati sang pujaan secantik Salma Hayek itu tidak dengan puisi Neruda. Neruda tertawa.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dengan segala perjuangan yang melelahkan, Jimenez berhasil mendapatkan perempuan pujaan bernama Beatriz. Itulah biografi dari sejarah kepahlawanan seorang penyair yang mematri jejaknya dengan metafora. Neruda mengajarkan hal itu pada si tukang pos. Ia pahlawan pujaan, menaklukkan sang kekasih pujaan. Dan itu kepahlawanan. Sesuatu yang sesungguhnya hidup, tak mati. Dan jika ia mati, ia tak dikenang namanya. Melainkan metafora telah menjadi jejak kepenyairannya pada “sejarah kecil” yang dikenang dalam “kehidupan yang kecil”. Sebentuk jejak kreatif yang dikorbankan untuk hidupnya. Bukan demi apa-apa, hanya demi pujaan hatinya, hidupnya. Bukan pengakuan atau ketenaran. Baginya, buat apa segala ketenaran jika metaforanya tak dapat menaklukkan hati sang pujaan, tak mematri jejak pada ingatan.

Sebagai pahlawan tak dikenal, pujaan hati, ia menulis puisi:

Senyummu merentang di wajahku seperti seekor kupu-kupu
Tawamu adalah air pasang yang mendebar;
Tawamu adalah gelombang keperakan yang datang tiba-tiba

Maka jatuhlah hati perempuan pujaan hati itu. Jatuh dalam metafora yang membentang antara berahi dan sosial, antara politik dan ideologi, antara sejarah dan segenap kegombalan dunia. Antara tatapan mata dan debur ombak yang membawa hujan dalam kenangan.

Dalam keserbasulitan dan rasa geram terhadap dunia, dalam perjalanan hidup sehari-hari, ada yang harus terus ada. Itulah apa yang disebut oleh Antonio Skarmeta sebagai “burning patience”, yakni “kesabaran yang membakar/menyala”. Ia membakar bukan untuk menghancurkan. Tetapi memberikan kehangatan untuk tetap bertahan, berjalan, dan tak pernah merasa kesepian. Novel Skarmeta itu dikenal dengan jejuluk Il Postino. Ada yang sesungguhnya tak tampak, dan tak perlu tampak. Namun fungsi dan keberadaannya nyata, barangkali menjadi semacam arti, entah apa dan entah oleh siapa.

Tinggalkan Balasan