Penyiar Pujaan

Begitu pula dalam lirik sebuah lagu lama. Rupanya Bimbo pun tak percaya pada label atau popularitas seseorang “yang selalu tampak itu”. Lantaran, sesungguhnya jiwa tak terjebak pada “yang selalu tampak itu”, prototipe, gelar, dan entah apa. Ia memuja dan merindukan yang tak pernah tampak—meski cuma dianggap pelengkap, namun bagai detak jantung dalam hidup sehari-hari.

Itu terekam dalam lagu Balada Seorang Penyiar (1970), bukan penyair. Ya. Penyiar. Di tahun-tahun itu, radio satu-satunya alat informasi dan penyiaran, sebelum tivi. Penyiar (bukan penyair) yang mengantarkan lagu-lagu, yang suaranya hilang di udara, yang orang tak pernah tahu dan tak mau tahu di mana rumahnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ke manakah gerangan Tuan? tanyanya.

Balada Seorang Penyiar (1970)
–Bimbo

Tiada lembah tiada gunung
Tiada kota tiada dusun
Suaramu terdengar merayu
Mengantarkan lagu-lagu
Baik siang maupun malam
Baik suka maupun duka
Kau arungi gelombang suara
Kau hampiri pendengarmu
Dikau penyiar pujaan pendengarmu
Suaramu sungguh merdu
Dikau penyiar pujaan pendengarmu
Suaramu sungguh merdu
Pendengarmu tak kenal wajahmu
Pendengarmu tak mau tau rumahmu Suaramu pengenalmu
Menyentuh merayap kalbu
Di udara, hilang suaramu
Di udara, terasa kelam
Lagu merdu, terasa kelabu
Ke manakah gerangan tuan
Dikau penyiar pujaan pendengarmu
Suaramu sungguh merdu
Dikau penyiar pujaan pendengarmu
Suaramu merdu

Sumber ilustrasi: Pablo Picasso.

Tinggalkan Balasan