Bila tengah malam telah datang, Dulla sudah tiba di perahu sebelum Misraji datang. Ia mempersiapkan segala kebutuhan untuk melaut. Misraji merasa beruntung memiliki sekutu seperti Dulla.
Mereka berlayar lebih ke tengah daripada nelayan lain. Mereka tak peduli ombak menerjang, angin menciptakan dingin, bahkan beberapa rintangan bagi nelayan. Ketika tempat sudah terlihat strategis, maka Dulla akan membentangkan jala, dan Misraji menarik jala yang telah berisi ikan-ikan terjerat dengan tangan kekarnya.

Risau pun semakin merayap ke lubuk jiwa sang istri, tatkala melihat tangkapan Misraji tak pernah sedikit, malah kian berlimpah ruah. Perihal tersebut seperti sebuah pertanda yang tak mengenakkan sang istri. Ia melihat punggung sang suami saat melaut, dan ia takut apabila nanti ia tak bisa lagi melihat sang suami kembali.
Namun, resah gelisah itu ia sembunyikan dalam senyuman. Ia senang melihat sang suami kembali dengan selamat. Namun, ketika melihat tangkapan berlimpah itu, ia seolah membayangkan sebuah kedatangan malapetaka. Dan senyum itu, tanpa ia ketahui, seketika menjadi tawar.
Datanglah malam yang tampak begitu kelam. Sang istri merasakan angin tenggara yang menyelusup ke celah bajunya, terasa amat sangat dingin. Dingin itu begitu kuat, hingga merayap ke dalam benak menciptakan kekhawatiran yang amat dahsyat bagi sang istri. Malam ini, ia tak mau sang suami pergi melaut.
“Mas,” hambat sang istri pada Misraji tatkala hendak menuju perahu. Ia menggenggam tangan Misraji sangat erat seperti ada yang hendak mengambil suaminya itu.
Aneh, kata Misraji dalam hati. Sang istri terlihat berbeda. Mata sang istri pun tampak lebih sayu. Namun, ia tak bisa berkata-kata. Ia hanya dapat menunggu sang istri melanjutkan kata-katanya.
“Perasaanku tak enak malam ini. Aku mohon, Mas. Jangan pergi untuk malam ini saja.”
Bukan menjawab, Misraji malah tertawa terpingkal-pingkal.
“Aku mohon, Mas.”
Mendengar permohonan sang istri yang begitu serius, tawa Misraji terhenti. Ia menghela napas dan mulai berkata, “Maaf istriku sayang. Barangkali perasaan tak enakmu disebabkan kandunganmu yang telah berumur sembilan bulan. Aku akan tetap melaut. Aku tak mau berleha-leha, sementara anak pertamaku akan segera lahir.”
Air mata menetes membasahi pipi sang istri, tatkala Misraji tetap dalam pendirian, melangkah dan terus melangkah menuju perahu. Ia hanya dapat berdoa untuk keselamatan sang suami. Hanya doa.
Di tepi laut, Dulla telah menunggu cukup lama. Tak seperti biasa, kawan seperahu itu datang dengan langkah sangat lambat. Ia melihat wajah Misraji begitu muram. Ia tak bisa menebak-nebak perihal apa yang telah terjadi. Yang bisa ia lakukan hanya bertanya, tentu dengan nada lirih sebab takut, “Kau kenapa, Kawan.”
