“Sudahlah, mari berangkat. Jangan sampai ikan-ikan terlalu lama menunggu kita,” Misraji mencairkan suasana.
Meski begitu, gelisah tak pernah bisa disembunyikan, Dulla tahu ada yang terjadi pada kawannya, hanya saja ia memilih diam. Dulla mulai menghidupkan mesin dengan gamang, wajah muram tidak biasa Misraji telah membuat perasaanya menjadi tak enak. Ia tak tahu itu perasaan apa. Yang jelas, bulan berdarah di langit semakin tak mengenakkan perasaannya.

“Kawan,” ucap Dulla seketika.
“Apa?!” jawab Misraji ketus.
“Perasaanku lagi tak enak malam ini. Apalagi, bulan sedang terluka. Semua orang kan tahu, bulan itu adalah pertanda buruk. Apa sebaiknya kita pulang saja, ya?”
“Tidak!” jawab Misraji tegas. Tekadnya benar-benar tak tergoyahkan. “Lihatlah, kita belum menangkap ikan satu pun malam ini. Dan kauminta pulang?! Cih! Kau sama saja dengan istriku.”
Kata terakhir Misraji, membuat Dulla tahu perihal wajah muram kawannya itu. Ia jadi semakin takut, tubuhnya seketika gemetaran. Namun, ia tak bisa apa-apa. Misraji terlalu arogan, dan ia hanya bawahan. Ia pun menurut meski tubuhnya terasa kaku ketika Misraji ingin berpindah tempat.
Dan ada satu hal pun yang Dulla sadari, dari tadi ia tak melihat satu pun perahu nelayan lain. Perahu mereka sendiri di tengah laut. Dan mereka pun terpaksa bergidik, tatkala ombak tetiba bergemuruh sangat lantang. “Sudah kubilang! Seharusnya kita pulang dari tadi. Kau sangat egois, Misraji! Ah! Kalau begini aku pun bakal ikut kamu ke kuburan,” bentak Dulla untuk yang pertama kalinya.
Namun, Misraji tak menjawab. Ia membisu dan mematung. Ia terima segala bentakan dari bawahannya itu. Semua ini memang salahnya. Seharusnya ia dengarkan kata istri dan kawannya. Semua sudah terlambat, ia bergidik ngeri saat angin sakal menyerang. Ya, angin sakal angin paling jahanam seperti kata bapak. Angin sakal yang bergentayangan di kepalanya, kini dengan nyata ia rasakan. Seketika ia ingat istri dan calon anaknya yang akan segera lahir. Mungkinkah, pikirnya, ia dapat melihat anaknya lahir sementara perahu telah terombang-ambing.
***
Malam semakin larut, angin mendesir dan ombak memecah kesunyian. Seorang lelaki tampak bercengkerama dengan bapaknya. Ia menagih sebuah janji. Malam ini, ia sungguh akan menjadi seorang nelayan. Perahu turun-temurun, dari bapak, kakek, bapak kakek, hingga seterusnya, kini jatuh ke tangannya.
“Ingat! Angin paling jahanam adalah angin sakal, ombak paling besar adalah tekad, dan malaikat penyelamat adalah doa Ibu,” Misraji berpetuah pada anaknya.
Yogyakarta, 2021.
