Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya yang fenomenal mengenai ayat ini menyatakan “Jangan sampai kebencianmu terhadap suatu golongan menyebabkanmu tidak berbuat adil kepada mereka, akan tetapi berlakulah adil kepada siapa saja, baik kepada teman mapun lawan.”
Dengan berpijak pada tafsir Ibnu Katsir tersebut, sudah sangat gamblang bagi kita agar jangan sampai mencampurkan suatu apapun yang dapat menyebabkan keadilan itu berubah haluan. Tak dapat dimungkiri bahwa benang merah ini tidak mudah untuk diejawantahkan di tengah lapangan. Dari sinilah para cendekiawan muslim mengambil peran mereka sebagai pemandu umat agar mereka senantiasa melanggengkan keadilan karena mereka telah dibekali dengan hikmah dari Allah yang mampu membimbing nurani membedakan yang haq dari yang batil. Tanpa hikmah ini, umat akan meraba-raba keadilan yang berwarna abu-abu dan sangat mungkin terperosok ke jurang kezaliman.

Antisipasi Titik Didih Intoleransi
Hadirnya golongan cendekiawan diharapkan mampu menelurkan perdamaian yang dinanti umat siang dan malam. Kehadiran mereka umpama lem perekat yang akan mengintegrasikan umat dalam warna-warni kemajemukan. Selain itu, mengantisipasi pemantik konflik juga perlu mendapatkan sorotan lebih. Sikap intoleransi, primordialistis, individualistis, antipluralistis, dan saudara sekandung mereka lainnya yang lahir dari rahim kebencian terhadap kemajemukan dan persatuan adalah angin segar yang mampu mengobarkan api dari gesekan-gesekan kecil.
Golongan cendekiawan dituntut untuk peka dan jeli melihat gesekan sekecil apapun agar tidak menjadi api di kemudian hari. Sikap siaga dan inisiatif harus terus disulut demi menjaga bersama kedaulatan umat. Terhadap suatu perseteruan, kaum cendekiawan menggunakan akal jernihnya yang telah dibimbing dengan hikmah dan menciptakan solusi permasalahan seadil-adilnya tanpa perlu meminjam subjektifitas di lain sisi mengabaikan egalitas dan netralitas.
Kesimpulan
Golongan cendekiawan memegang peran yang sangat krusial bagi kebermaslahatan umat. Tanpa golongan ini, sangat mungkin umat akan kehilangan sopir yang akan menuntun mereka ke jalan yang benar setelah kepergian Rasulullah secara zahir dari dunia yang fana ini.
