Dilansir dari Media Indonesia, 21 Mei 2018, Penelitian Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (Lakip) antara Oktober 2010 dan Januari 2011 terhadap lebih dari 2.000 guru pendidikan agama Islam (PAI) dan siswa di wilayah Jabodetabek, misalnya, menunjukkan tingkat persetujuan terhadap pengeboman yang dilakukan pelaku tindak terorisme sebagai bentuk perlawanan terhadap Barat. Angkanya mencapai 7,5% di kalangan guru dan 14,2% di kalangan siswa.
Dalam konteks isu lokal seperti penyegelan atau perusakan tempat ibadah, tingkat persetujuan di kalangan guru mencapai angka 40,9%, sedangkan di kalangan siswa 52,9%. Data-data tersebut menunjukkan bahwa pendidikan masih menjadi lahan subur penyebaran paham ekstremis.

Dengan menilik data tersebut, sudah seharusnya sekolah mulai mengupayakan sistem pendidikan berbasis perdamaian. Guru harus dibekali dengan kemampuan menciptakan suasana yang memungkinkan siswa terus mengembangkan perilaku sosial dan karakter yang positif.
Tagar #gurupenggerak yang digaungkan oleh Nadiem selayaknya tak hanya berhenti sebagai tagar, namun juga dijiwai oleh para pendidik di Indonesia untuk menggerakkan anak didiknya tumbuh menjadi generasi berkarakter dan tentu saja mencintai perdamaian dan kebaikan.
