Perang Israel-AS vs Iran, Siapa yang Diuntungkan?

Serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran sejak 28 Februari lalu telah menimbulkan banyak korban jiwa di berbagai wilayah, termasuk kawasan Teluk. Tercatat, hingga 2 Maret 2026, sebanyak 1.761 orang dilaporkan tewas di wilayah Iran, sementara serangan balasan Iran menyebabkan 14 korban jiwa di Israel.(Tfa, 2026). Mayoritas korban berasal dari kalangan warga sipil, melampaui jumlah korban dari pihak militer, dan angka tersebut terus mengalami peningkatan. Pada 6 Maret 2026, dilaporkan  bahwa jumlah korban di Iran mencapai 1.230 orang.(Adi Ahdiat, 2026).

Besarnya jumlah korban jiwa tersebut menunjukkan bahwa konflik ini bukan sekadar ketegangan biasa, melainkan krisis kemanusiaan yang terus memburuk. Namun, di balik eskalasi kekerasan ini, muncul pertanyaan yang lebih mendalam: apakah konflik ini benar-benar dipicu oleh perbedaan ideologi dan agama, atau justru ada kepentingan lain yang lebih kompleks?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Benarkah Soal Agama?

Narasi tentang agama kerap menggiring masyarakat untuk memahami konflik Israel-AS vs Iran sebagai pertentangan idelogi. Iran sering diposisikan sebagai negara dengan identitas Islam yang kuat, sementara Israel dikenal sebagai negara Yahudi.(Khotibul Umam, 2022). Dalam kerangka ini, konflik antara kedua negara tersebut cenderung dipahami sebagai benturan ideologi antara Islam dan Yahudi.

Pandangan tersebut kemudian membentuk persepsi bahwa tindakan-tindakan politik dan militer yang terjadi merupakan representasi dari pertarungan identitas keagamaan. Israel, misalnya, sering dipersepsikan sebagai pihak yang berupaya memperluas pengaruhnya melalui tindakan militer, sementara Iran dipandang sebagai representasi kekuatan Islam yang menentang dominasi tersebut.

Di sisi lain, dinamika politik global juga turut memperkuat narasi ideologis ini. Pernyataan dan kebijakan tokoh politik seperti Donald Trump, misalnya, sering dikaitkan dengan isu-isu kebebasan perempuan di Iran, termasuk terkait penggunaan jilbab. Wacana semacam ini kerap dibingkai sebagai upaya pembebasan, namun sekaligus mempertegas konstruksi konflik sebagai pertentangan antara nilai-nilai Barat dengan Islam.

Dari Revolusi ke Revalitas

Jika dilihat dari perspektif historis, Iran dan Israel tidak selalu berada dalam hubungan yang konfliktual. Sebelum terjadinya Revolusi Iran 1979, kedua negara justru memiliki hubungan yang relatif kooperatif. Kerja sama tersebut mencakup berbagai bidang strategis, seperti intelijen, militer, perdagangan senjata, hingga pengembangan teknologi nuklir (Daud Ghazanfari, 2026).

Fakta historis ini menunjukkan bahwa konflik antara Iran dan Israel tidak semata-mata disebabkan oleh perbedaan ideologi. Jika ideologi menjadi faktor utama, maka hubungan kooperatif yang berlangsung sebelumnya sulit untuk dijelaskan. Dengan kata lain, hubungan kedua negara bersifat dinamis dan sangat dipengaruhi oleh perubahan kepentingan politik dan material.

Perubahan signifikan terjadi setelah Revolusi Iran 1979 yang mengubah sistem politik Iran menjadi Republik Islam, dengan ulama sebagai pemegang otoritas tertinggi (Abd Kadir, 2015). Di bawah kepemimpinan Ayatollah Khomeini, Iran bersama pasukan militernya mengambil sikap yang lebih tegas terhadap Barat dan Israel, serta menunjukkan dukungan kuat terhadap Palestina.(Ap Ostavar, 2009).

Sikap tersebut tidak hanya mencerminkan perubahan ideologis, tetapi juga menunjukkan pergeseran orientasi politik dan strategi geopolitik Iran di kawasan Timur Tengah. Penolakan terhadap Israel serta kritik terhadap dominasi Barat mempertegas posisi Iran sebagai aktor yang berupaya menantang hegemoni regional.

Bagaimana Perspektif Karl Marx?

Dalam pandangan Karl Marx, konflik sosial tidak semata-mata disebabkan oleh perbedaan ideologi, melainkan oleh pertentangan kelas dan kepentingan material.(Misbahul Munir, 2016). Marx berpendapat bahwa agama sering kali berfungsi sebagai “candu masyarakat”, yang membuat manusia tidak menyadari bahwa ketertindasan yang mereka alami berasal dari sistem sosial yang tidak adil. Dengan kata lain, agama dapat menjadi semacam “topeng” yang menutupi realitas penindasan. Dalam kondisi ini, individu tidak melihat bahwa ketimpangan yang terjadi merupakan hasil dari struktur kekuasaan, melainkan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar atau bahkan takdir.

Marx juga membagi masyarakat ke dalam dua kelas utama, yaitu kelas penguasa (borjuis) dan kelas yang dikuasai (proletar). Dalam relasi ini, kelas penguasa memiliki kepentingan untuk mempertahankan dominasinya, termasuk dengan memproduksi dan menyebarkan ideologi tertentu.(Marchen, 2024). Ideologi tersebut kemudian berfungsi untuk membenarkan ketimpangan dan mencegah perlawanan dari kelas yang tertindas. (Victor Ogheneocukho Jeko, 2024).

Dalam konteks konflik Israel-Amerika Serikat vs Iran, narasi ideologi—baik dalam bentuk agama maupun identitas—dapat dipahami sebagai bagian dari konstruksi yang digunakan untuk membingkai konflik. Apa yang tampak sebagai pertentangan keyakinan, pada dasarnya dapat merepresentasikan kepentingan yang lebih dalam, seperti perebutan kekuasaan, pengaruh geopolitik, dan kontrol atas sumber daya.        

Membongkar Ilusi

Maka konflik Israel-Amerika Serikat vs Iran dalam pandangan Marx tidak dapat dipahami hanya sebagai pertentangan ideologi atau agama. Narasi ideologis yang ada justru berfungsi sebagai ilusi yang menutupi realitas yang lebih dalam, yakni relasi kekuasaan dan kepentingan material.

Di balik konflik tersebut terdapat kepentingan strategis yang melibatkan perebutan pengaruh geopolitik, kontrol atas sumber daya minyak, (A. Junaedi Kasro, 2025) serta posisi penting kawasan seperti Selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan energi global. (Hardian Noviyanto, 2025). Dengan demikian, konflik ini lebih tepat dibaca sebagai bagian dari dinamika kekuasaan daripada sekadar benturan keyakinan.

Pada titik ini, pertanyaan yang lebih relevan bukan lagi “siapa yang benar secara ideologis” akan tetapi “siapa yang diuntungkan dari konflik.” Pertanyaan tersebut membuka cara pandang baru bahwa konflik tidak pernah netral, melainkan selalu berkaitan dengan kepentingan kelompok tertentu yang berusaha mempertahankan atau memperluas dominasinya.

Daftar Pustaka

Adi Ahdiat. “Jumlah Korban Jiwa Akibat Perang AS-Israel Versus Iran di Kawasan Timur Tengah(28-05 Maret 2026)” Databoks.06 Maret  2026. https://databoks.katadata.co.id/demografi/statistik/69aa3dfd598a6/1200-warga-iran-tewas-akibat-serangan-as-israel

Abd. Kadir. Syiah dan Politik: Studi Republik Iran. Jurnal Politik Profetik. 2015. Vol.5. No.1

  1. Junaedi Kasro. Israel-Iran Serang Harga Minyak Mentah Merangkak Naik Dampaknya Terhadap Ekonomi RI. Jurnal Riset Ilmiah. 2025. Vol.2. No.7

Ap Ostavar. Guardians of The Islamic Revolution Ideology, Politics and the Development of Miitary Power in Iran (1979-2009). 2009

Daud Ghazanfar. “Revolusi Islam 1979, Titik Balik Dramatis Hubungan Iran-Israel yang Menggegerkan Dunia. Desaglawan”. 2026

Hardian Noviyanto. Security and Sovereignty in The Strait of Hormuz: The Iran-USA Conflict. Journal of Piece, Security and Democracy. 2025. Vol.1. No.1

Khotibul Umam. Revalitas Arab Saudi, Iran, dan Israel di Kawasan Timur Tengah. Publika. 2022. Vol.10. No.02

Karl Marx. “Economic-Philosophic Mnuscript. Marchen”. 2024

Misbahul Munir. Pemikiran Karl Marx Tentang Agama. Citra Ilmu. 2016. Vol.12. No.24

Tfa. “Update KOrban Perang AS-Israel VS Iran di Banyak Negara”. CNBC Indonesia. 11 Maret 2026. https://www.cnbcindonesia.com/news/20260311170008-4-718167/update-korban-perang-as-israel-vs-iran-di-banyak-negara#:~:text=Di%20pihak%20Israel%2C%20petugas%20tanggap,korban%20di%20pihak%20negara%20tersebut.

Victor Ogheneocukho Jeko. An Evaluation of Karl Marx’s Critique of Philosophy, Religion and Ideology. UATJOGAP. 2024. Vol.1. No.3

*Khossinah, mahasiswi Magister Sosiologi FISHUM UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tulisan-tulisannya dimuat di beberapa  media cetak, online dan antologi bersama. Email: [email protected]

Tinggalkan Balasan