Perayaan Satu Abad NU dan Bingkai Keagamaan

Sesuai dengan anjuran dalam upaya membangun keutuhan dalam berbangsa adalah yang pernah dipopulerkan oleh KH Achmad Siddiq (1926-1991), salah satu tokoh arsitek Khittah NU 1926, yang juga berperan penting dalam ikut merumuskan fondasi hubungan Islam dan Pancasila.

Dalam sebuah pidato usai terpilih sebagai Rais Aam PBNU dalam Muktamar ke-27 tahun 1984 di Situbondo, disebutkan bahwa di antara membangun keutuhan bangsa sehingga tidak terjadi disintegrasi, maka keberadaan Islam harus mampu merawat tiga ikatan persaudaraan, yaitu, ukhuwah islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyyah (persaudaraan kebangsaan), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ikatan persaudaraan ini diyakini akan dapat mencairkan ikatan primordial keagamaan, bahkan juga diyakini dapat menjadi modal sossial sehingga dijauhkan dari ancaman disintegrasi bangsa. NU sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah (organisasi sosial keagamaan) dipastikan memiliki komitmen dalam upaya merajut berbagai elemen bangsa.

Cinta tanah air ini dipahami sebagai salah satu upaya aktualisasi nyata keimanan seseorang. Jargon ini dicetuskan langsung oleh pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari melalui hubbul wathani minal iman (cinta tanah air adalah sebagian dari iman). Karena itulah menjadi tepat jika terus disematkan bahwa NU adalah organisasi sosial keagamaan yang memiliki komitmen kebangsaan yang kuat, dan siap menjadi penjaga NKRI.

 Islam yang Ramah

Membangun bingkai keagamaan yang ramah menjadi penting. Mengingat representasi Islam di Indonesia, khusus bingkai keagamaan yang akhir-akhir ini banyak ditampilkan melalui media-media baru banyak ditandai oleh warna-warni paham ideologi keagamaan.

Hal ini terjadi, selain karena perkembangan masyarakat saat ini lebih ditandai oleh penggunaan teknologi informasi yang cenderung bebas dalam berekspresi, sehingga fasilitas kebebasan ini juga membuka lebar bagi komunitas tertentu untuk eksis bahkan juga berupaya menguasai ruang-ruang baru itu sebagai tempat berekspresi dalam bentuk aksi-aksi dakwah.

Tinggalkan Balasan