Perempuan dan Kecemburuannya

Kecemburuan Para Istri Nabi

Bukan hanya itu, kisah perempuan dan kecemburuan ini juga pernah dialami oleh istri-istri Nabi. Mengutip esai yang ditulis oleh “guru” saya, Aan Anshori, kecemburan pelik semacam ini juga tergambar dalam berbagai fragmen rumah tangga Nabi bersama para istrinya. Kisah ini terpotret dalam hadits, al-Quran, maupun sirah-biografi Nabi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bagi umat Islam, Nabi diyakini sebagai model ideal dalam semua hal, termasuk ketika mengatur keluarganya. Namun hidup satu biduk dengan banyak cinta sungguhlah tidak mudah. Perasaan cinta, kekhawatiran, kecemburuan, dan rivalitas selalu turut mewarnai dinamikanya.

Sebagai istri pertama yang dinikahi Nabi pasca wafatnya Khadija, Sawda binti Zam’ah pernah terekam menyerahkan “jatah gilirannya” kepada istri yang lain. Diduga kuat, Sawdah yang beranjak tua melakukan hal itu karena khawatir diceraikan Nabi, sebagaimana diceritakan Ibn Abbas dalam Jami’ al-Tirmidhi (Vol.5 Book 44, hadith 3040).

Perlu dicatat, sebelum berpoligami, Khadijah bisa dikatakan cinta mati Nabi. Bersama perempuan aristokrat ini, Nabi menghabiskan sebagian besar hidupnya secara monogami, sekitar 25 tahun, sampai Khadijah meninggal dunia pada 620 M. Ada cerita menarik sebagaimana diriwayatkan Ibn Saad dan Ibn Jarir al-Tabari menyangkut bagaimana dua orang ini meminta restu ayah Khadijah. Penuh liku-liku dan berstrategi.

Belakangan, kecintaan Nabi terhadap mendiang Khadijah tak pelak membuat Aisyah bint Abu Bakar cemburu berat. “Nggak pernah aku merasa secemburu kepada istri-istri Nabi kecuali kepada Khadijah,” katanya. Mendengar hal itu, Nabi menjawabnya, “Allah sendiri yang langsung merawat cinta Khadijah dalam hatiku.” Percakapan ini terekam dalam Sahih Muslim (Hadits Nomor 2435).

Perjalanan cinta Nabi bersama para istrinya berjalan penuh dinamika. Salah satunya ditandai dengan rivalitas antaristri. Yang paling mencolok adalah antara Aisyah binti Abu Bakar dan Zaynab binti Jahsy. Keduanya diketahui saling membanggakan diri sesuai dengan keutamaan yang mereka yakini bersifat ilahiah. Aisyah merasa dirinya adalah perempuan yang dipilih Allah melalui Jibril untuk mendampingi Nabi, sebagaimana yang tercatat dalam Sahih Bukhari (Volume 7, Buku 62, Nomor 15).

Selain itu, Aisyah juga merasa sangat spesial karena dialah satu-satunya istri yang mendampingi Nabi saat Jibril menyampaikan wahyu di tempat tidur. Keunggulan Aisyah pernah ditegaskan Nabi di hadapan Ummu Salamah.

“The superiority of ‘Aishah to other women is like the superiority of Tharid to other kinds of food,” kata Nabi dalam Hadits 3947 di kitab Sunan al-Nasai. Tharid adalah semacam sup kambing muda dicampur roti. Mungkin karena itu, Aisyah terlihat dominan di antara para istri. Ia tidak segan-segan mengungkapkan kecemburuannya di hadapan Nabi dan istri-istri lainnya.

Ummu Salamah pernah cerita, suatu ketika ia membawakan makanan untuk Nabi dan para sahabatnya. Saat Aisyah tahu, makanan itu langsung dibungkus kain dan dihancurkan dengan alat penumbuk.

“Eat your food, it is just the jealousy of your mother,” kata Nabi kepada sahabat menenangkan suasana. Nabi lantas memberikan masakan Aisyah ke Ummu Salamah dan sebaliknya (Al-Nasai, 3956).

Tinggalkan Balasan