Namun demikian, tidak ada rival istri setara di mata Aisyah kecuali Zaynab bint Jahsy. Perempuan berstatus janda ini, menurut Al-Qurtubi dan Ibn Saad, tidak hanya cantik, berkulit halus, dan ramping, namun juga pekerja keras dan temperamental seperti Aishah. Dia juga ahli menyamak kulit dan punya bisnis di bidang itu.
Dalam aspek campur tangan Tuhan atas perjodohannya dengan Nabi, Zaynab tidaklah kalah dengan Aisyah. “Kalau istri-istri lain diberikan oleh keluarga mereka kepada Nabi, Aku dinikahkan Allah langsung dari surga ketujuh,” kata Anas bin Malik sebagaimana terekam Sahih Bukhari 7420. Perkawinannya dengan Nabi memang menjadi satu-satunya perkawinan yang kabarnya menjadi sebab turunnya QS. 33:37.

Dengan kualifikasi seperti ini, agak sulit untuk tidak mengatakan Aisyah tidak cukup terintimidasi dengan kehadiran Zaynab. Aisyah secara jujur pernah berkata menyangkut sosok Zaynab, “She was somewhat my equal among the wives of the Prophet,“ sebagaimana dicatat dalam Al-Nasa’i 3946. Ibarat liga sepak bola Spanyol, keduanya adalah dua raksasa; Barcelona dan Real Madrid.
Suatu ketika, dengan beraninya, Zaynab mencari suaminya, Nabi, yang saat itu ada di rumah Aisyah. Begitu melihat Zaynab datang, Nabi menyodorkan tangannya, ingin menyongsong Zaynab. “Dia Zaynab binti Jahsy,” kata Aisyah memperingatkan Nabi. Nabi pun langsung menarik tangannya kembali. Entah terkait soal apa, namun Zaynab dan Aisyah langsung terlibat adu mulut dengan intonasi tinggi. Nabi hanya diam saja. Saat Abu Bakar lewat depan rumah Aisyah, ia berkata, “Nabi mari kita salat saja, (biar nanti saya) lempari debu mulut keduanya.” Abu Bakar begitu malu atas sikap putrinya terhadap Nabi, “Do you behave like this?” damprat Abu Bakar pada Aisyah.
Ini bukan adu mulut pertama antara Aisyah dan Zaynab. Pada kesempatan lain di mana para istri merasa Nabi terlalu mengistriemaskan Aisyah, mereka bersepakat meminta Fatimah, putri Nabi, untuk menyampaikan aspirasi mereka. Sayangnya, Fatimah gagal meyakinkan ayahnya.
Lalu mereka meminta Zaynab bint Jahsy bertemu Nabi, sebagai wakil mereka. Zaynab pun menemui Nabi, saat itu ada Aisyah di samping Nabi. Saat Zaynab menyampaikan aspirasi para istri, Aisyah merasa perempuan itu telah melewati batas. Karena tak kuat dipojokkan terus-menerus, Aisyah pun melakukan perlawanan. Cekcok sengit terjadi di hadapan Nabi. Cerita ini dituturkan sendiri oleh Aisyah.
Aisyah kabarnya juga sangat cemburu kepada Zaynab karena Nabi pernah berlama-lama mengunjungi rumah Zaynab. Ia dan Hafsa kemudian mengatur strategi untuk memprotes Nabi. Peristiwa ini dikenal dengan kasus maghafir, sebagaimana direkam Sahih Bukhari Vol.6/60/434, Al-Nasa’i 3795 dan Abu Dawud 3714.
Mengelola Emosi
Cerita perihal kecemburuan para istri Nabi tersebut tentu saja semakin memperkuat argumen saya bahwa perempuan yang cemburu adalah perempuan yang cukup berbahaya. Emosi perempuan yang memang cenderung lebih ekspresif dari laki-laki seringkali menimbulkan kekacauan, bahkan bisa juga memperkeruh konflik.
Kecemburuan pada perempuan tidak hanya terbatas pada posisinya dengan perempuan lain. Kecemburuan itu bisa saja tumbuh karena dia merasa tidak lebih diprioritaskan dari hal yang lain. Perempuan bisa saja cemburu pada aktivitas pasangannya bersama teman-temannya, bisa cemburu dengan PS atau game online, bisa cemburu dengan sepak bola atau futsal, cemburu dengan pekerjaan dan sebagainya. Menurut Jurnal Psikologi yang pernah saya baca, perempuan memang cenderung menuntut sebuah emosi kesetiaan sehingga dirinya selalu ingin menjadi sebuah prioritas.
Setiap perempuan tentu berbeda-beda mengatasi kecemburuan, namun saya tentu saja berharap, seorang laki-laki mampu menjaga perasaan perempuan dengan baik. Pun juga sebaliknya. Perempuan harus mampu menjaga harga dirinya. Tidak ada yang salah dengan perasaan cemburu, sebab cemburu adalah sesuatu yang manusiawi.
