Di era modern, perasaan perempuan harus dilihat sebagai aset, bukan beban. Dalam dunia kerja, misalnya, keterampilan empati terbukti meningkatkan kualitas kepemimpinan. Penelitian Goleman (2004) tentang emotional intelligence menegaskan bahwa pemimpin dengan kecerdasan emosional tinggi lebih mampu membangun tim yang solid, memotivasi karyawan, dan menyelesaikan konflik. Artinya, perasaan perempuan justru bisa menjadi nilai tambah dalam karier.
Dalam lingkup keluarga, perasaan perempuan adalah pilar utama. Penelitian Feldman (2007) menunjukkan bahwa kedekatan emosional ibu dengan anak memiliki dampak besar pada perkembangan sosial dan rasa aman anak. Anak yang mendapat dukungan emosional dari ibunya cenderung tumbuh percaya diri dan lebih mudah beradaptasi di lingkungan sosial.

Karena itu, masyarakat perlu memberikan ruang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan perasaannya tanpa takut dihakimi. Perasaan harus dipandang sebagai kekuatan yang melengkapi rasionalitas. Dunia yang hanya mengandalkan logika akan kering dan penuh konflik, terasa kaku dan sangat egois tanpa penengah sedangkan dunia yang mengakui perasaan akan lebih manusiawi dan seimbang serta mampu bersikap luwes dan saling memaknai arti memanusiakan manusia.
Perempuan dan perasaannya adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Perasaan bukanlah kelemahan yang harus ditekan, melainkan kekuatan yang bisa menjadi sumber empati, keberanian, dan keteguhan. Benar bahwa perasaan membawa kerentanan, tetapi justru kerentanan itulah yang membuat perempuan lebih autentik dan lebih dekat dengan manusia yang lainnya sehingga kehadiran perempuan sebagai pemoles kelembutan akan kodrat tegas dari sikap laki-laki.
Menghargai perasaan perempuan berarti menghargai kemanusiaan. Sebab, di balik setiap air mata, senyum, atau kegelisahan yang mereka rasakan, selalu tersimpan pelajaran tentang ketulusan, keberanian, dan cinta yang tidak ternilai. Maka, sudah saatnya kita berhenti merendahkan perasaan perempuan, dan mulai melihatnya sebagai kekuatan yang mampu mengubah dunia.
*Penulis artikel ini adalah peserta workshop penulisan kreatif dan jurnalistik jejaring duniasantri di Pesantren Tebuireng, Jombang, 20-23 Agustus 2025.

Subhanallah, mantappppp,,,,👍👍👍