PEREMPUAN YANG MENYIMPAN LANGIT DALAM DOANYA
Di antara suara lembut lantunan ayat al-quran,
ia menyembunyikan semesta yang tak terlihat oleh mata telanjang.

Kakinya melangkah penuh irama di lantai pesantren,
tapi hatinya berlari jauh, menuju sang Pencipta yang ia kenal tanpa harus melihat.
Perempuan itu bukan pemilik suara paling keras di antara halaqah,
Namun di dadanya, ayat-ayat tumbuh bak bunga indah di taman,
disirami sabar, dipelihara syukur, dan mekar dalam sujud yang panjang.
Perempuan itu,
yang jemarinya mengenal tasbih lebih dari gemerlap dunia,
yang sepasang matanya basah bukan karena terluka,
namun karena terlalu sering mengadu lemah dengan langit.
Ia tahu, hidup tak selalu selembut doa,
kadang rancau seperti hal yang tak mampu dijelaskan.
Namun ia tetap bersimpuh meminta kepada sang Pencipta,
dengan iman yang dijahit dari luka samar yang tak pernah ia tanyakan.
Di antara kitab dan waktu yang berjalan angkuh,
ia memahami bahwa menjadi perempuan bukan hanya berperang dengan kebohongan dunia.
Dan kelak
jika dunia bertanya siapa ia,
tak perlu gelar panjang atau kisah megah.
Cukup satu,
perempuan yang setia menjaga Tuhan di setiap langkahnya.
JANTUNG INI MILIK-MU
Di balik detak yang tak pernah terhitung,
ada nama-Mu yang berulang disebut tanpa suara.
Bukan di langit yang jauh,
Namun di jantung.
yang setia memanggil-Mu dengan cinta.
Kami belajar menyebut-Mu di kelas sederhana,
dengan kitab yang sudah menguning bercampur mata setengah lelah.
Seringkali,
Engkau justru lebih dekat dari pelajaran itu
hidup di sela napas,
di langkah yang kami jalani.
Tuhan,
ternyata Engkau bukan sekedar untuk dicari,
Namun juga untuk dicintai.
Pada ibu yang bangun sebelum fajar,
pada guru yang menahan lelahnya demi ilmu,
pada air wudhu yang dingin menyentuh jiwa.
Engkau bernapas dalam hati kami,
Mendengar kami.
Saat kami tersesat dalam riuh dunia,
Engkau tidak pergi.
Engkau bersembunyi di balik detak yang masih setia berdenting,
menunggu kami pulang.
Maka jika suatu hari kami lupa jalan menuju-Mu,
letakkan tangan di dada dan dengarkan
itu bukan sekadar jantung,
itu panggilan-Mu
yang tak pernah berhenti untuk mengingatkan kami pada-Mu.
DARI RAHIM YANG TAK PERNAH MENUNTUT
Ibu tak pernah berdiri di atas mimbar
tak juga menulis sejarah dengan tinta yang dipuji banyak orang,
namun dari rahimnya
lahir langkah-langkah yang kelak akan mengubah zaman.
Ibu mengandung bukan hanya tubuh,
tapi harapan yang ditenun perlahan,
dari doa yang tak putus
di antara lelah yang jarang disebut.
Di belaian tangannya yang penuh cinta,
ibu membentuk dunia penuh kasih
mengajarkan kata pertama,
mengingatkan arti pulang,
dan mengenalkan untuk mencintai Tuhan
sebelum dunia mengenalkan luka.
Ibu tahu,
kelak buah hatinya akan berjalan jauh,
dan mungkin akan menghapuskan betapa senyap perjuangannya,
tapi ibu tetap merelakan
karena cintanya tak pernah meminta dikenang.
Ibu,
engkau bukan sekadar awal kehidupan,
engkau adalah alasan mengapa kehidupan terus berdetak menemui jantung-Nya.
Dari rahimmu,
lahir orang-orang yang akan mengajarkan ajaranmu untuk beribadah kepada sang Pencipta.
yang mungkin tak selalu menyebut namamu,
tapi membawa sepotong keikhlasanmu
dalam setiap langkahnya.
Ilustrasi: sang penjaga (ibu), lukisan saparul anwar phalonk.
