Bahasa Indonesia Boleh Profan, Namun Tak Boleh Kotor*

*Pidato kunci disampaikan dalam Pembukaan Pameran 60 Tahun Majalah Horison di PDS H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 23 April 2026.

Saudara-saudara yang saya hormati,

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kita berkumpul hari ini di sebuah ruang yang tidak sekadar menyimpan dokumen, tetapi menyimpan ingatan, menyimpan jejak batin, dan mungkin juga menyimpan kegelisahan yang belum usai. Di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin ini, kita berhadapan dengan sesuatu yang lebih dari sekadar arsip: kita berhadapan dengan waktu yang masih berbicara —tentang yang terbit dan yang tenggelam atau dilupakan.

Pameran 60 Tahun Majalah Horison, yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Jakarta dan PDS H.B. Jassin, berlangsung dari 23 April hingga 24 Mei 2026. Tepat hari ini kita membukanya. Saya ingin menyampaikan hormat dan terima kasih sebesar-besarnya kepada Perpustakaan Jakarta dan PDS H.B. Jassin serta tim kurator —Esha Tegar Putra, Cempaka Pertiwi, Serrum Arthandler— beserta seluruh panitia, yang telah bekerja keras merawat ingatan kolektif ini. Mereka tidak sekadar menggantung bingkai atau menata etalase. Mereka telah membangun sebuah jembatan waktu. Lewat zonasi yang terencana —dari linimasa, dewan redaksi, Angkatan ’66, ilustrasi, lintasan pemikiran, hingga evolusi desain— kita diajak menyusuri denyut nadi sebuah majalah yang lahir di tengah kepungan sejarah yang tak pernah ramah.

Saya berdiri di sini bukan sebagai pemimpin redaksi Horison lagi. Jabatan itu telah saya letakkan. Dan justru karena itu, saya bisa melihat dengan lebih jernih —dengan rasa terima kasih yang paling dalam, dan mohon maaf yang tak terhingga, terutama kepada Taufiq Ismail, satu-satunya pendiri Horison yang dalam usia 90 tahun lebih kini masih bersama kita. Saya senang sekali bahwa saya mendengar kabar sayup-sayup ini: redaksi baru bermaksud menghidupkan kembali Horison, dan mereka mungkin akan memulai dari pameran ini. Menurut saya, itu langkah yang cerdas sekaligus berani. Karena, mereka memulai kembali bukan dengan lompatan kosong, tetapi dengan berpijak pada akar — itulah yang disebut tradisi dalam arti paling sehat.

Pameran ini diberi judul “Yang Terbit, Yang Tenggelam”. Saya ingin merenungkan judul itu sejenak.

Dalam sejarah sastra Indonesia, kita terbiasa merayakan yang terbit. Kita memuji edisi-edisi yang terbit tepat waktu, karya-karya yang terbit di media besar, penulis-penulis yang terbit namanya menjadi kanon. Tapi pameran ini mengajak kita melakukan sesuatu yang lebih jujur: ia juga menengok ke dasar —ke apa yang tenggelam. Karya yang tidak dimuat. Gagasan yang kalah dalam perdebatan. Penulis yang dilupakan karena tidak masuk arus utama. Wacana yang kandas karena tak kuasa melawan arus politik atau pasar. Dengan keberanian seperti ini, pameran ini tidak hanya merayakan Horison sebagai institusi sukses. Ia juga merayakan kerapuhan, kegagalan, dan ketidaksempurnaan —karena justru dari situlah pembelajaran sejati lahir.

Saya ingat, ketika saya masih aktif di redaksi, kami sering berdebat tentang apa yang layak terbit dan apa yang tidak. Itu proses yang melelahkan, kadang menyakitkan, karena di belakang setiap keputusan ada pertimbangan estetika, politik, dan juga soal uang. Ada naskah-naskah hebat yang tenggelam karena kolom terbatas. Ada penulis muda yang potensial tetapi tidak sempat kami orbitkan karena kami terlalu sibuk dengan rutinitas. Pameran ini menjadi semacam pengakuan publik: bahwa di balik setiap majalah yang terbit, ada lautan naskah dan mimpi yang tenggelam. Dan itu tidak salah. Yang salah adalah jika kita berpura-pura bahwa yang terbit adalah satu-satunya yang berharga.

Saya ingin mengajak Saudara berjalan sejenak dalam imajinasi, menyusuri zona-zona pameran ini. Di Zona Linimasa, kita melihat rentang waktu 60 tahun —dari edisi Juli 1966 hingga bentuk digital pasca-2010. Setiap tahun punya wajahnya sendiri: ada yang penuh semangat, ada yang lesu, ada yang penuh sensor, ada yang penuh harapan. Di Zona Dewan Redaksi, kita melihat foto-foto para penggawa dari masa ke masa —wajah-wajah yang sebagian sudah almarhum, sebagian masih berjuang di tempat lain.

Di Zona Angkatan ’66 dan Peran H.B. Jassin, kita diingatkan pada sebuah generasi yang lahir dari pergolakan, yang mencoba merumuskan ulang hubungan antara sastra, politik, dan kebebasan. Tapi juga diingatkan bahwa Jassin, sang “Dokter Sastra”, memiliki sisi lain yang jarang dirayakan secara publik: ia adalah seorang pencari spiritual yang gelisah, yang akhirnya menemukan ketenangan dalam irama ayat-ayat suci. Kita akan kembali ke Jassin nanti, karena ia adalah kunci dari refleksi saya hari ini.

Lalu ada Zona Ilustrasi, yang menunjukkan bahwa Horison tidak hanya menerbitkan teks, tetapi juga membangun dialog antara kata dan gambar. Ada Zona Audio, di mana kita bisa mendengar rekaman suara penyair yang sudah tiada —suara yang seolah bangkit dari kematian untuk membacakan puisinya sendiri. Ada pula zona evolusi desain, yang memperlihatkan bahwa majalah ini juga berubah secara visual, dari yang sederhana hingga yang lebih berani, dari cetak ke digital.

Saudara-saudara, pameran ini adalah sebuah pernyataan: sebuah majalah sastra tidak pernah hanya tentang apa yang terbit di atas kertas. Ia tentang jaringan manusia, tentang perdebatan yang tidak kunjung usai, tentang kegagalan yang diakui, dan tentang keteguhan untuk terus terbit meski sering hampir karam.

Ada satu hal yang membuat pameran ini memiliki makna yang lebih dalam: ia berlangsung di bawah nama H.B. Jassin, seorang yang sepanjang hidupnya tidak hanya membaca dan menilai sastra, tetapi juga menjaga ingatan sastra itu sendiri. Seorang yang percaya bahwa apa yang pernah ditulis —bahkan dalam sobekan kertas pun— tidak boleh hilang begitu saja dari kesadaran kita sebagai bangsa. Dan mungkin, di sinilah makna simbolik pameran ini paling terasa.

Ini bukan sekadar pameran. Ini adalah sebuah peristiwa kebudayaan. Artinya, ia tidak hanya menyajikan benda-benda untuk dilihat, lalu usai. Ia mengubah cara kita melihat. Ia menggugat cara kita mengingat. Ia memaksa kita bertanya bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan: apakah yang kita warisi ini masih hidup, atau hanya tinggal nama?

Dan di sinilah nama H.B. Jassin menjadi lebih dari sekadar label pada sebuah gedung. Ia adalah sebuah metode. Sepanjang hidupnya, Jassin tidak hanya membaca dan menilai sastra; ia juga mengarsipkannya. Ia menyimpan surat, kliping, naskah, foto, bahkan kuitansi honor penulis —semua yang menurut orang lain mungkin remeh. Ia percaya bahwa apa yang pernah ditulis, bahkan dalam secarik kertas sekalipun, tidak boleh hilang begitu saja dari kesadaran kita sebagai bangsa. Karena baginya, ingatan adalah fondasi peradaban. Tanpa ingatan, kita adalah bangsa yang amnesia, yang mudah diombang-ambingkan oleh slogan dan lupa pada janji-janji “kebenaran”.

Maka, pertemuan antara Horison dan ruang ini bukanlah kebetulan. Horison adalah majalah yang lahir dari semangat keterbukaan dan keberanian estetis. PDS H.B. Jassin adalah tempat di mana semangat itu dirawat dalam bentuk arsip —dingin, sunyi, namun setia dan sepenuh hati. Dengan pameran ini, seolah-olah Horison kembali ke rumahnya sendiri, ke tempat di mana ingatan dijaga dengan sekuat tenaga. Barangkali juga untuk diuji kembali: apakah —dengan satu dan lain cara— ia masih memiliki alasan untuk hidup?

Pertanyaan itu tidak mudah dijawab. Sebab, dunia telah berubah. Majalah cetak kian sunyi. Generasi muda lebih akrab dengan layar gawai daripada dengan kertas yang mulai menguning. Otoritas sastra tidak lagi sepenuhnya berada di tangan redaksi, tetapi tersebar di ribuan akun media sosial, di algoritma yang tidak pernah membaca puisi dengan hati yang bergetar. Di tengah semua itu, Horison hadir dengan pameran ini —bukan dengan gegap gempita, tetapi dengan ketenangan sebuah pertanyaan. Bukan dengan klaim kemenangan, tetapi dengan pengakuan jujur atas apa yang terbit dan apa yang tenggelam.

Dan justru karena kejujuran itulah, pameran ini menjadi peristiwa kebudayaan dalam arti sejati. Ia tidak memaksakan jawaban. Ia memberi ruang bagi setiap pengunjung untuk merenung: apakah saya masih peduli pada bahasa yang bersih? Apakah saya masih percaya bahwa kata-kata bisa menjadi lebih dari sekadar alat? Apakah saya mau mengambil bagian dalam menjaga estafet yang sudah berjalan 60 tahun ini?

Saudara-saudara,

Saya tidak tahu apakah Horison akan bertahan 60 tahun lagi. Tapi saya tahu, setidaknya pada hari ini, di ruang ini, di bawah nama H.B. Jassin, ia masih berbicara. Ia masih menggema. Dan bagi sebuah majalah sastra, tidak ada kemenangan yang lebih besar daripada masih didengar, masih diperdebatkan, masih dirindukan —di tengah dunia yang semakin keras dan bising.

Pameran ini adalah bukti bahwa Horison belum usai. Ia hanya berganti napas. Dan di bawah atap PDS H.B. Jassin, napas itu terasa hangat, seperti kembali ke pangkuan seorang penjaga ingatan sastra yang paling setia.

Di tengah semua itu, saya ingin mengajukan sebuah refleksi kecil, yang mungkin akan saya ulang beberapa kali dalam pidato ini. Refleksi itu adalah: Bahasa Indonesia boleh profan, namun tak boleh kotor.

Apa maksudnya?

Saudara-saudara,

Sekali lagi, bahasa Indonesia boleh profan, namun tak boleh kotor.

Pada hemat saya, inilah salah satu spirit paling mendasar majalah sastra Horison dan H.B. Jassin, dua institusi kebudayaan kita yang kini telah menjadi sejarah itu. Tapi sebagai sejarah, Horison dan H.B. Jassin bukanlah proyek kebudayaan yang selesai. Ia tetap hidup, diwariskan, dan —dalam satu dan lain cara— diwarisi antargenerasi secara produktif dan kreatif. Pameran 60 Tahun Majalah Horison yang bertempat di PDS H.B. Jassin ini adalah bukti bahwa spirit itu tetap menyala. Tidak redup. Tidak padam. Ia hanya berganti tangan, berganti napas, berganti cara menyala.

Dilihat secara lebih dalam, pameran tersebut bukan sekadar arsip yang dipajang, melainkan sebuah simbol yang kaya makna. Ia menghadirkan lapisan sejarah, estetika, dan sakralitas bahasa Indonesia dalam satu ruang. Melalui pameran ini, ketiganya —sejarah, estetika, dan sakralitas bahasa Indonesia— kini menggemakan spirit tadi. Halus, namun seakan terdengar lantang. Karena, ia tidak berbicara dengan volume suara, melainkan dengan bobot eksistensial.

Lapisan Sejarah: Kerja Profan yang Tak Boleh Kotor

Mari kita mulai dari lapisan pertama: sejarah. Pameran ini memajang fakta-fakta konkret. Edisi demi edisi. Foto demi foto. Surat, kuitansi, koreksi naskah, notulen rapat. Ini adalah artefak dari kerja profan —kerja yang melelahkan, yang tidak romantis, yang kadang membuat redaksi berdebat hingga tengah malam tentang apakah sebuah koma perlu dihapus atau sebuah kata perlu diganti. Kerja yang harus berurusan dengan uang, dengan percetakan, dengan distributor yang kadang tidak membayar, dengan pembaca yang marah karena karyanya tidak dimuat.

Sejalan dengan itu, sobekan wesel, surat-surat pribadi, tulisan tangan penulis, manuskrip, kliping koran —semua itu dirawat Jassin sepenuh hati di rumahnya yang penuh sesak. Bukan karena ia seorang kolektor yang obsesif, tetapi karena ia percaya bahwa dalam setiap sobekan kertas itu, ada denyut kehidupan yang suatu saat akan dibutuhkan. Wesel, misalnya: secarik kertas kecil yang nilainya mungkin hanya beberapa ratus rupiah, tetapi di atasnya tercatat perjalanan uang dari penerbit ke penulis —sebuah bukti bahwa sastra juga urusan makan, bahwa penulis pun perlu hidup, bahwa karya tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari kerja dan upah yang kadang tak seimbang. Jassin menyimpannya. Bukan karena ia pelit, tetapi karena ia tahu: suatu hari, seorang peneliti akan bertanya, “Berapa sebenarnya honor pengarang tahun 1960-an?” Dan jawabannya ada di sobekan wesel itu.

Tinggalkan Balasan