Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn. Indonesia kembali kehilangan seorang ulama sepuh yang jejak pengabdiannya melintasi dunia pesantren, dakwah Islam, kehidupan sosial keagamaan, dan dinamika politik nasional. Prof. KH Syukron Ma’mun, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jakarta, wafat pada Ahad, 18 Oktober 2026.
Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang dai yang dikenal luas sebagai Singa Podium. Sekaligus, membuka ruang bagi refleksi yang lebih mendalam tentang warisan pemikiran, keteguhan prinsip, dan peran ulama dalam kehidupan umat Islam Indonesia.

Bagi keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU), dunia pesantren, para santri dan alumni, serta masyarakat yang mengikuti perjalanan dakwah dan politik Islam, wafatnya KH Syukron Ma’mun bukan sekadar kehilangan seorang tokoh agama. Ia merupakan kehilangan seorang kiai senior yang tumbuh dalam tradisi keilmuan pesantren, memahami denyut kehidupan umat, dan menyaksikan secara langsung perubahan besar dalam hubungan antara Islam, negara, masyarakat, dan kekuasaan di Indonesia.
Kiai Syukron adalah bagian dari generasi ulama yang menjalani kehidupan ketika Islam tidak hanya dipelajari sebagai ajaran ibadah dan akhlak, tetapi juga menjadi sumber orientasi moral dalam menghadapi persoalan sosial, ketimpangan, kebangsaan, serta perebutan pengaruh dalam politik. Ia hadir di tengah masyarakat dengan bahasa dakwah yang tegas, keberanian berbicara, dan keyakinan bahwa agama harus memiliki daya hidup dalam keseharian umat.
Karena itu, mengenang KH Syukron Ma’mun berarti mengenang lebih dari seorang penceramah yang piawai menguasai mimbar. Ia adalah pendidik, pengasuh pesantren, ulama sepuh dalam lingkungan NU, serta figur yang memiliki hubungan dengan pergulatan politik umat Islam. Dari dirinya, kita dapat membaca sebagian perjalanan Islam Indonesia: dari ruang pengajian dan pesantren hingga panggung demokrasi, dari pembentukan karakter santri hingga perdebatan mengenai kedudukan agama dalam kehidupan publik.
Dari Sampang ke Mimbar Dakwah Nasional
KH Syukron Ma’mun lahir di Sampang, Madura, pada 21 Desember 1941. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang dekat dengan tradisi keilmuan Islam. Ayahnya, KH Ma’mun Nawawi, dan kakeknya merupakan figur yang memiliki kedekatan dengan kehidupan keagamaan masyarakat, sedangkan ibunya, Hj. Masturoh, turut mengenalkan Al-Qur’an dan kitab-kitab dasar keislaman sejak dini.
Lingkungan keluarga tersebut menjadi fondasi bagi perjalanan intelektual dan spiritualnya. Dalam tradisi pesantren, seorang kiai tidak terbentuk hanya melalui penguasaan teks agama. Ia juga ditempa oleh kedisiplinan belajar, penghormatan kepada guru, keterlibatan dalam kehidupan masyarakat, dan kesadaran bahwa ilmu memiliki tanggung jawab sosial.
Kiai Syukron menempuh pendidikan agama di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, kemudian melanjutkan pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo. Perjumpaan dengan dua lingkungan pendidikan Islam tersebut menjadi bagian penting dari pembentukan dirinya. Tradisi keilmuan kitab kuning dan penguatan kemampuan berbahasa, berorganisasi, serta berkomunikasi memberinya bekal untuk menyampaikan gagasan Islam kepada masyarakat yang lebih luas.
Ketika masih muda, ia telah aktif berdakwah di sejumlah daerah di Jawa Timur. Dakwahnya tidak selalu berlangsung dalam suasana yang mudah. Pada masa ketika hubungan antara kelompok sosial, kekuatan politik, dan ekspresi keagamaan kerap diwarnai ketegangan, keberanian menyampaikan ceramah menjadi bagian dari ujian seorang pendakwah. Julukan Singa Podium kemudian melekat pada dirinya. Julukan itu menggambarkan kemampuan orasinya, ketegasan penyampaian pesan, serta daya komunikasinya dalam membangun perhatian dan menggugah kesadaran jamaah.
Pada 1967, Kiai Syukron merantau ke Jakarta. Di ibu kota, ia memperdalam pengetahuan agama kepada sejumlah ulama, termasuk Habib Ali bin Husein di Bungur dan Habib Abdurrahman Al-Habsyi di Kwitang. Ia juga mengajar di sejumlah lembaga pendidikan dan aktif dalam majelis taklim.
Perpindahan dari Madura dan Jawa Timur ke Jakarta mempertemukannya dengan masyarakat yang lebih majemuk, kehidupan perkotaan yang kompleks, dan dinamika politik yang berbeda. Jakarta bukan sekadar tempat memperluas jangkauan dakwah, melainkan juga ruang tempat persoalan umat Islam bertemu dengan birokrasi, ekonomi, pendidikan, organisasi masyarakat, dan kekuasaan negara.
Dalam konteks itulah, perjalanan Kiai Syukron menjadi relevan untuk dibaca sebagai bagian dari sejarah dakwah Islam Indonesia. Ia tidak memilih untuk membatasi pengabdian pada ruang kelas atau forum keagamaan tertentu. Ia mendatangi masyarakat, berbicara di hadapan jamaah, dan membangun hubungan dengan beragam kalangan. Dakwah baginya menjadi jalan pengabdian yang harus terus bergerak mengikuti kebutuhan umat.
Daarul Rahman: Warisan yang Abadi
Salah satu peninggalan paling nyata dari perjalanan KH Syukron Ma’mun adalah Pondok Pesantren Daarul Rahman di Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang didirikannya pada 1975 bersama sejumlah rekan seperjuangan.
Pendirian pesantren ini memiliki arti penting dalam perkembangan pendidikan Islam di Jakarta. Di tengah pertumbuhan ibu kota yang semakin cepat, pesantren menyediakan ruang bagi pendidikan agama yang berakar pada tradisi ulama, sekaligus membentuk generasi muda yang memiliki disiplin, pengetahuan, dan identitas keislaman.
Daarul Rahman bukan sekadar bangunan tempat berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar. Ia merupakan pelembagaan dari keyakinan bahwa dakwah tidak boleh berhenti pada suara seorang penceramah. Dakwah harus menjelma menjadi proses pendidikan yang berlangsung terus-menerus, membentuk manusia, dan melahirkan generasi yang dapat meneruskan pengabdian.
Mimbar memiliki jangkauan yang luas, tetapi pengaruhnya sering kali bergantung pada momentum dan kemampuan pendakwah untuk menjangkau jamaah. Pesantren menawarkan sesuatu yang berbeda: hubungan guru dan murid yang berkelanjutan, pembelajaran yang terstruktur, pembentukan kebiasaan, serta pewarisan tradisi keilmuan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Di sinilah letak arti strategis Daarul Rahman dalam perjalanan Kiai Syukron. Ia tidak hanya mengumpulkan jamaah untuk mendengarkan ceramah, tetapi juga membangun institusi yang memungkinkan ilmu dipelajari, diperdebatkan dalam batas-batas tradisi keilmuan, dan diamalkan dalam kehidupan.
Para santri yang pernah belajar kepadanya menjadi bagian dari warisan yang tidak dapat diukur hanya melalui jumlah bangunan atau lamanya masa kepemimpinan. Mereka membawa pengalaman pendidikan, ingatan tentang nasihat guru, serta bekal keagamaan ke dalam keluarga, masyarakat, profesi, dan ruang pengabdian masing-masing.
Bagi seorang pendiri pesantren, keberhasilan paling mendasar bukanlah ketika namanya terus disebut, melainkan ketika lembaga yang dibangun tetap mampu menjalankan fungsi pendidikan setelah dirinya tiada.
Karena itu, wafatnya Kiai Syukron seharusnya menjadi momentum untuk memikirkan masa depan Daarul Rahman secara lebih serius: bagaimana tradisi keilmuannya dipelihara, bagaimana kualitas pendidikannya dikembangkan, bagaimana hubungan guru dan santri tetap terjaga, serta bagaimana pesantren dapat menjawab persoalan generasi baru tanpa kehilangan akar tradisinya.
Di tengah perubahan zaman, warisan seorang kiai akan benar-benar hidup apabila diteruskan melalui kerja pendidikan yang bermutu, bukan semata-mata melalui penghormatan seremonial kepada pendirinya.
Karya Singa Podium
Dalam lingkungan Nahdlatul Ulama, figur kiai sepuh memiliki kedudukan yang melampaui usia dan jabatan formal. Mereka dihormati karena perjalanan keilmuan, pengabdian kepada umat, hubungan dengan jaringan ulama, serta kemampuannya menjadi tempat bertanya ketika masyarakat menghadapi persoalan agama dan kehidupan.
KH Syukron Ma’mun merupakan salah satu figur senior yang dikenal dalam lingkungan NU dan dunia pesantren. Pengabdiannya memperlihatkan bagaimana seorang ulama dapat berperan melalui dakwah, pendidikan, pembinaan masyarakat, dan keterlibatan dalam persoalan publik tanpa seluruh kontribusinya harus diukur melalui jabatan struktural organisasi.
Penting untuk membedakan dua hal: kedudukan seorang ulama dalam tradisi sosial-keagamaan NU dan jabatan formal dalam struktur kepengurusan NU. Keduanya dapat saling berhubungan, tetapi tidak selalu identik. Arti penting Kiai Syukron dalam obituari ini terutama terletak pada pengabdian keulamaannya, jaringan dakwahnya, dan keterlibatannya dalam dinamika umat Islam Indonesia.
NU sendiri tumbuh dari tradisi pesantren, penghormatan terhadap mata rantai keilmuan, dan pengembangan paham Ahlussunnah wal Jamaah. Dalam perjalanan sejarahnya, NU juga menghadapi persoalan besar tentang hubungan antara agama dan negara, tradisi dan modernitas, serta idealisme keagamaan dan kebutuhan praktis kehidupan politik.
Kiai Syukron hidup dan berdakwah dalam ruang sejarah yang penuh pergulatan tersebut. Ia dikenal sebagai pendakwah yang menegaskan pentingnya pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah. Ia juga menulis mengenai persoalan keagamaan, antara lain melalui karya Risalah Pemantapan ASWAJA (1988), Riba dan Bank (1995), dan Apakah Bid’ah Itu? (2007).
Karya-karya tersebut memperlihatkan perhatiannya terhadap persoalan akidah, fikih, dan praktik keagamaan masyarakat. Bagi dirinya, dakwah bukan hanya persoalan retorika, tetapi juga menyangkut bagaimana umat memahami ajaran Islam dan menentukan sikap dalam persoalan yang dihadapi sehari-hari.
Dalam tradisi NU, perbedaan pandangan keagamaan dan politik merupakan kenyataan yang tidak dapat dihapus begitu saja. Para kiai memiliki pengalaman, lingkungan sosial, pilihan strategi dakwah, dan pertimbangan politik yang berbeda-beda. Keragaman itu merupakan bagian dari sejarah panjang organisasi dan masyarakat Muslim Indonesia.
Karena itu, menghormati Kiai Syukron sebagai ulama sepuh NU tidak berarti menganggap seluruh pandangan atau pilihan politiknya mewakili setiap warga NU. Justru kedewasaan tradisi NU terletak pada kemampuannya menghormati pengabdian para ulama, sembari tetap membuka ruang bagi pembacaan kritis terhadap gagasan dan keputusan mereka.
Kiai sepuh dihormati bukan karena pemikirannya harus ditempatkan di luar evaluasi sejarah, melainkan karena pengabdiannya memberi bahan bagi generasi penerus untuk belajar tentang ilmu, keteguhan, tanggung jawab, dan batas-batas kekuasaan. Dalam konteks itu, warisan Kiai Syukron patut ditempatkan sebagai bagian dari kekayaan pengalaman ulama Indonesia yang berusaha membawa nilai-nilai Islam ke tengah kehidupan masyarakat.
