“Lalu? Oh ya, siapa namamu?”
“Siaman,” jawab bocah itu.

“Siaman.” Klara mengulang nama si bocah.
“Aku Klara.”
“Senang kenal denganmu. Tapi aku harus pergi.”
Belum sempat Klara menanyakan alasan, Siaman sudah buru-buru berlari ke arah masjid. Karena merasa tak punya hak apa-apa untuk ikut campur urusan Siaman, Klara hanya menanggapi kejadian itu dengan embusan napas seperti ketika orang sedang sangat lelah menjalani hidup di dunia ini. Lalu ia kembali duduk di tempat semula ia duduk.
Sepuluh menit kemudian, Siaman tiba-tiba duduk di sebelahnya. Klara yang terkejut bertanya sejak kapan ia di sana, tapi bocah itu tidak menjawab. Setelah coba mengamati, Klara merasakan ada suatu perbedaan pada Siaman. Bocah itu tampak lebih sumringah, sama sekali lain dari sepuluh menit yang lalu. Apa yang terjadi pada Siaman? Klara bertanya-tanya.
“Dari mana kau tadi?”
“Panggilan Tuhan.”
“Emm. Kamu kelihatan lebih semangat sekarang!”
“Tentu,” sahut Siaman. “Tadinya aku amat sedih karena teman-temanku menolak ajakanku makan di angkringan. Mereka pikir, makan di angkringan itu merendahkan diri mereka. Mereka pikir, orang kaya harus makan di rumah makan, di kafe, di warung makan besar dan bergengsi.”
Klara terperangah mendengar semua perkataan Siaman. Dalam taksirannya, bocah itu baru berumur sekitar 12 tahunan, atau paling mentok 15-an tahun. Tapi, apa yang dikatakannya tadi itu tampak menggambarkan suatu kematangan berpikir.
“Dan sekarang aku senang. Sebab, ada kamu.”
“Aku?” Klara kebingungan.
“Iya. Di duniaku, orang-orang tidak saling peduli. Saat duduk berhadap-hadapan sekalipun, kami tidak saling mengerti kalau salah satu di antara kami mungkin sedang mengalami suatu masalah yang pelik. Kami hanya peduli untuk membuat diri kami senang. Wajah-wajah yang sedih tidak terbaca oleh mata kami.”
“Aku tak mengerti,” kata Klara.
“Kau orang yang peduli.”
***
