“Ada-ada saja” adalah ungkapan yang tepat ketika saya masih aktif di pondok. Sekitar tahun 1990-an saya masuk di Pondok Pesantren Annuqayah, Sumenep, Madura, Jawa Timur. Sebagai seorang santri, sudah bukan hal yang aneh ketika mendapati atau bahkan mengalami hal-hal yang menggelitik dan menggelikan. Ada banyak hal yang dapat dijadikan “candaan” sebagai bagian dari proses menempa diri untuk menghadapi kenyataan hidup, saat kita kembali ke kampung halaman.
Misalnya saja, ketika ada salah seorang santri yang membeli sayur kelor (maronggi), maka santri-santri lain yang melihatnya akan “mengembek” yang maknanya adalah menganggap santri yang membeli kelor disamakan dengan kambing (embek).

Tentu saja hal ini sebatas kelakar saja. Memberikan tekanan mental bagi santri yang membeli kelor agar terjadi proses peneguhan mental atau jiwa saat kembali ke masyarakat. Di tengah kehidupan bermasyarakat yang kita hadapi berbagai macam ujian (tekanan) yang jauh lebih dahsyat daripada “dicemooh” (e gajak) saat membeli setangkup daun kelor.
