Siaman dan Klara makan di angkirngan alun-alun utara. Siaman yang mentraktir. Meski jadi tak enak hati, Klara menerima tawaran baik Siaman. Setelah makan sampai kenyang, mereka berdua ngobrol-ngobrol. Di tengah obrolan itulah, Siaman menemukan suatu gurat yang kurang pas di wajah Klara. Seharusnya Klara bisa tampak lebih cantik dari itu. Guratan yang kurang pas itulah yang mengganggu pancaran kecantikan wajah Klara. Setelah menghabiskan es jeruknya, Siaman berkata, “Sebaiknya kau ceritakan masalahmu, Ra. Kau bisa lebih cantik dari yang sekarang terlihat.”
“Apa aku terlihat punya masalah?” tanya Klara.

“Ya. Aku melihat itu.”
“Ah. Kau juga orang yang peduli.”
***
Klara kagum dengan kebaikan Siaman. Bocah itu dengan enteng meloloskan uang ratusan ribu dari dompetnya setelah mendengar cerita singkatnya. Ada lima lembar. “Belilah apel merah sepuasmu.”
Klara menggeleng. “Tidak!”
“Ayo. Terimalah.”
Klara menggeleng lagi. Siaman lantas menarik tangan Klara dan meletakkan uang lima ratus ribu itu ke telapak tangannya. Klara coba memberontak. Jari-jari tangan kanan Klara dipaksa oleh Siaman agar menggenggam uang itu.
“Baik. Kuterima. Tapi tidak semua…” ujar Klara.
“Kenapa?”
“Aku cuma butuh sebuah saja.”
Siaman kalah.
***
Klara mulai mempertimbangkan niatnya makan apel merah segar di tangannya. Berikan? Makan? Berikan? Makan? Dua pilihan yang berdesak-desakan minta unjuk diri. Sementara itu, laki-laki bungkuk di depannya masih setia menunggu. Napasnya sedikit terengah-engah.
Dan, Klara mengulurkan apelnya.
“Ya Tuhan!” kata laki-laki bungkuk itu sambil menerima apel merah segar. “Ratusan orang kumintai, Nak. Sungguh. Baru kau yang mau peduli. Terima kasih sudah peduli. Terima kasih.”
“Kau orang yang peduli.” Ucapan Siaman menggema. Tiba-tiba saja Klara terpikirkan ini. Setelah menerima uang dari Siaman, ia gegas pergi membeli apel merah segar, tanpa pamit pada Siaman. Hanya sebuah apel saja dibelinya. Setelah itu, ia pun memilih Malioboro sebagai tempat terjun ke kolam kenikmatan surgawi: kenikmatan apel merah. Klara lupa memastikan, di mana malaikat yang telah membantunya sampai ke pintu kenikmatan ini. Di manakah Siaman? Tiba-tiba saja Klara merasa sendirian. Padahal, Malioboro ramai sesak oleh manusia. Hanya saja, mungkin, hanya Siaman yang peduli.
