Perjalanan Rindu

1

Debu, retak-retak tanah yang membatu, menganga, membongkah. Lalu liat, licin, dan membecek. Itulah siklus waktu tanah kelahiranku, desaku. Adalah lelaki jadzab yang menjadi tanda pergantian waktu. Adalah lelaki jadzab yang menjadi jendela: gerangan apakah yang datang menjelang?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bila ia bertelanjang badan, berkeliling menyusuri jalanan yang riuh oleh duga oleh rencana oleh harapan oleh kecemasan, orang-orang yakin matahari akan segera memanggang. Debu-debu menyelimuti tetumbuhan, retak-retak tanah membatu, menganga, membongkah. Alam pun meranggas. O, kemarau tiba! Lalu menghilang.

Bila lelaki itu berkopiah, dan ada baju yang membalut tubuhnya yang ringkih, melangkah perlahan mengitari jalanan yang riuh oleh keluh tubuh-tubuh yang basah oleh keringat, orang-orang yakin air akan segera memandikan bumi yang gerah. Lalu liat, licin, dan membecek. Dinding-dinding bergetar oleh retak-retak yang menggembur, tanah mengatup. O, penghujan datang! Lalu menghilang.

O, lelaki itu, siklus waktu. Ada yang terulang. Ada yang selalu datang. Ada yang selalu menghilang. Begitulah orang-orang selalu menunggu. Menunggu yang selalu terulang, yang selalu datang, yang selalu menghilang.

O, waktu, kau telah melahirkan aku.

2

Di sebuah terik yang melelahkan, seseorang bertanya, “Kau ini sebenarnya ingin menjadi apa?”

Ia bertanya, karena melihatku seperti angin, karena melihatku seperti air, karena melihatku seperti api, karena melihatku seperti debu. Tidak seperti batu. Tidak seperti gunung.

3

Saat itu usiaku mungkin baru enam atau tujuh tahun atau entahlah. Air sungai itu mengalir tenang, kecoklatan. Di atasnya ada sebuah titian bambu. Aku menitinya. Kadang berlompatan di atasnya, lalu terjun ke dalam air kali yang kecoklatan itu. Karena, bagi kanak-kanak, hidup adalah permainan.

Lalu, saat berjalan di atas titian itu, aku bertemu entah siapa. Dia mengulum senyum, dan aku menyambutnya. Entah didorong oleh apa, bibirku lalu terbuka, “Kaukah Tuhan itu?” Dia cuma tersenyum. Dan aku pun segera melupakannya, lalu kembali larut dalam kecipak air.

4

Ini surau, dulu, seperti rumahku. Entahlah kini, sebab aku cuma bisa merinduinya. Dulu, bila senja menjelang, aku tinggalkan pintu rumah menuju surau itu. Burung-burung yang beterbangan kembali ke peraduannya menjadi tanda waktu. Itu senja di cakrawala. Selalu ada asa, malam selalu memberikan kehangatan yang sama. Dan di balik terali jendela yang kusam, aku berteriak lantang, memanggil nama-nama keagungan. Inilah hidup: siapa memuji siapa, siapa mengagungkan siapa.

Ini surau, dulu, seperti rumahku. Entahlah kini, sebab apalagi yang bisa kurindui. Air tak lagi mengalir. Warna yang itu, dulu selalu. Kolam sisi surau itu kini kering bukan oleh datangnya kemarau, tapi oleh bumi yang lapar. Dan tak lagi memantulkan gaung panggilan ke banyak sudutnya. Dan tak lagi memberi ceria dalam kecipak airnya. Dan tak lagi menjadi tempat untuk bertelanjang bersama.

Ini surau, dulu, seperti rumahku. Aku tidur di lantainya, setiap malam, bertelanjang badan. Cuma pantat yang terlilit sarung. Cuma tengkuk yang terganjal kaki dampar, tempat aku mengeja alif-ba-ta… Tapi, lantai itu kini tak lagi kusam, memberi kehangatan. Lantai itu kini mengilap, bening seperti kristal yang memantulkan banyak gambar, banyak wajah, dan menelan gambar-gambar dan wajah-wajah itu dalam dingin, dalam diam. Dan, dampar-dampar itu, entah telah menjadi abu di tungku, entah lapuk oleh waktu, atau entahlah di mana, kini.

Ini surau, dulu, seperti rumahku. Ada gelak dalam banyak perbincangan sabda. Sudut-sudut ruang selalu riuh, sering gaduh. Lalu dengan batuk yang menggelegar, lelaki berjubah menyihir waktu. Datang kesenyapan penuh ketakziman. “Tuhanku akan marah, jika manusia tak beda dari binatang.”

Ini surau, dulu, seperti rumahku. Ada banyak canda dalam sujud, ketika banyak dahi menyentuh bumi, ketika dosa-dosa dipangku, ditimang, ditimbang. Lalu, di sebuah malam, lelaki berjubah itu memperpanjang bacaan-bacaannya, memperlambat peralihan gerakannya yang diikuti mereka yang berderet di baris belakangnya, dan baru mengusap wajah pada ujung malam. “Jangan lagi ada canda ketika menghadap Tuhan.”

5

Saat itu, entahlah berapa usiaku. Tapi aku mulai bisa tidur di sembarang waktu, di sembarang bangku. Aku keluar dari sesuatu yang selalu, segala yang rutin. Bibir pun segera pada mencibir. Ada kamar tetangga yang menjadi seperti rumahku. Ada bangku-bangku di bus yang menjadi seperti ranjangku. Ada gardu-gardu di perempatan jalan yang menjadi seperti dampar-dampar di surau itu. Tapi Ibu telah mengantarkan, telah melepaskan. “Pilihlah jalanmu sendiri. Sisanya adalah doa seorang ibu.”

Dan memang, selanjutnya hidup adalah soal memilih jalan.

6

Pada suatu malam aku menyusuri sebuah jalan. Gelap. Pekat. Lalu kosong, aku hilang dari kesadaranku oleh sebongkah batu. Di sana, orang-orang berteriak, berkerumun. Dia menginginkan perempuan yang diinngini pria lain, seseorang bergumam. Ah, sebuah kenakalan kanak-kanak.

Pada malam berikutnya, aku sudah berada di sebuah surau. Bukan yang dulu. Ada masjid, dan bilik-bilik kamar berderet. Tapi pada subuh pertama itu aku pergi menjemput hari, dan tidak kembali. Lelaki yang menjadi denyut nadi ruhani desa kami mencari, datang. “Kenapa kau tidak kembali?”
Ah, Tuhan tak tersembunyi di bilik-bilik itu. Tuhan tak tersembunyi pada lipatan-lipatan kitab suci itu. Aku masih pergi menjemput hari. Menjadi air, menjadi api, menjadi angin, menjadi debu— terulang, datang, menghilang…

Kembali, ada kamar tetangga yang menjadi seperti rumahku. Ada bangku-bangku di bus yang menjadi seperti ranjangku. Ada gardu-gardu di perempatan jalan yang menjadi seperti dampar-dampar di surau itu, dulu.

Lalu Ibu teperkur di sudut kamar pada setiap ujung malam. Saat para malaikat membuka kunci pintu langit-langit malam. Saat setiap ranjang basah oleh peluh kelelahan, keresahan. Wahai malaikat, bukalah pintu yang itu… Selalu, suara itu memecah malam.

7

Ya, malam yang beku akhirnya oleh waktu. Bukan cuma pintu yang itu. Beribu-ribu! Mungkin, ketika malam berhiaskan purnama, ada lebih banyak perempuan yang terjaga, dan bersimpuh di sudut-sudutnya. Ini dupa, ini doa, menggendong berlaksa asa ke ketinggian sana. Ah, langit itu menjadi teramat gaduh. Semua mendoa. Semua meminta.

Dan angin pun berhenti berdesir. Dan pohon-pohon berhenti melambai. Dan air yang bening seakan membeku. Mereka tak kuasa menatap pandang purnama.

Tinggalkan Balasan