“Kami malu. Kami ini cuma rindu.”
Angin, pepohonan, dan air pun tak kuasa mengirim pesannya.

Aku yang sudah mulai bisa tidur di segala waktu, di sembarang bangku, terjaga oleh sorot mata yang berkilauan. Dingin yang jauh dari beku. Hangat yang jauh dari uap. Entahlah, rasa apa itu.
“Kau tak membakar dupa, atau mengirim doa-doa. Langit akan segera membuka pintu-pintunya.”
“Ah, aku malu. Aku ini cuma rindu.”
Rindu memang tak butuh waktu. Rindu memang tak memerlukan tungku. Rindu memang datang tak melewati pintu. Tak.
8
Rindu itu yang selalu membawaku ke jalan itu. Menjadi angin, menjadi air, menjadi api, menjadi debu. Dan lelaki itu, sang siklus waktu, masih sering melintas di jalan itu. Tapi aku cuma melihat, bahwa tanda itu tak mengubah banyak.
“Kau tak perlu melihat tanda. Kau tak memerlukan isyarat. Kau, mencarilah apa yang ingin kau cari.”
“Ah, aku ini cuma rindu, dan malu tak kuasa menanggungkannya.”
Lelaki itu masih sering, dan kadang kami bertemu, di jalan itu. Berdebu. Selalu, akhirnya kami tak bertukar sapa, tak bertukar tanda, tak bertukar kata.
“Pergi. Pergilah, agar rasa itu terus terjaga; bahwa kita saling ada. Bahwa rindu harus makin menggebu.”
Rindu itu yang akhirnya membawaku ke lebih banyak jalan yang bercecabang. Menjadi angin, menjadi air, menjadi api, menjadi debu. Tersuruk-suruk di antara lapis-lapis waktu. Terlipat-lipat di antara bibir-bibir yang mencibir.
9
Dan waktu pun berlompatan mengejar entah. Tanda makin jauh dari eja. Banyak sabda yang terucap, tapi siapa lagi yang sudi mengeja, memberi makna. Tak pernah lagi digelar satu dua lembar tikar, lalu berpuluh-puluh takir dijejer melingkar. Dan di tengah perempatan jalan itu, bocah-bocah saling mengejar, menyelinap di antara pundak dan bahu para lelaki yang bersila termangu. Menunggu bau tanah basah, lenguh kerbau di antara pematang sawah yang gaduh.
Ya, waktu telah berlompatan mengejar entah. Tak ada lagi eja pada setiap tanda. Dan aku kian tersuruk-suruk di antara lapis-lapis waktu yang terus berlompatan mengejar entah. Dan kian terlipat di antara bibir-bibir yang terus mencibir. Bibir-bibir yang jauh dari eja. Bibir-bibir yang selalu mengirimkan uap pada gumpalan mendung yang bergelayut. Bibir-bibir yang selalu meludahkan maki ke dalam berpuluh-puluh baki. Entahlah, pada bibir siapa ada eja, keluar mantra, menyemburkan makna. Entahlah, pada bibir siapa lagi orang-orang menitipkan asa, agar dupa-dupa atau doa-doa menggendongnya ke ketinggian sana.
Jalan itu sepi. Tapi aku ini cuma merindu.
“Pergi. Pergilah, agar rasa itu terus terjaga; bahwa kita saling ada. Bahwa rindu harus makin menggebu.”
Suara itu, selalu, memecah waktu yang beku.
10
Waktu pun terus berlompatan mengejar entah. Dan aku telah jauh atau pergi dari itu, desa yang menunggu. Di sana, entahlah, adakah yang menjadi angin, menjadi air, menjadi api, menjadi debu. Karena, di antara waktu yang terus berlompatan mengejar entah, yang sering tinggal adalah menunggu. Menunggu dalam doa, dengan dupa, dengan mantra. Sementara di setiap ujung senja, bocah-bocah terus berlompatan, menanduk-nanduk maki dalam berpuluh-puluh baki. Dan langit menjadi teramat gaduh. Dan tak ada lagi terdengar desir suara lembut yang teduh membasuh dari pojok sana.
“Aku malu, aku ini cuma rindu.”
O, suara itu, ke manakah angin membawanya berlalu.
Dan bukan cuma di ketinggian lazuardi. Pun di kerak-kerak tanah yang retak orang menyurukkan doa, membakar dupa, dan terus menyemburkan mantra yang menelan hampir semua suara malam. Ah, bumi bergetar oleh beribu-ribu tangan yang menggenggam mimpi, menabur berlaksa asa. Gaduh dan riuh. Orang-orang berebut baris paling depan menjumpa Tuhan. Setiap diri berkacak, menengadah: inilah aku, hamba-Mu, hendak menuju— tapi tanpa rindu yang menggodam.
Orang-orang mengira, rumah Tuhan ada di ketinggian sana, pada lazuardi itu. Tinggi. Tinggi sekali. Di sanalah singgasana Tuhan. Yang waktu pun tak mampu menjangkau. Yang cahaya pun tak kuasa memeluknya. Yang air pun tak bisa membasuhnya. Yang api pun takkan membakarnya. Lalu mereka sibuk membikinnya tangga: kitab suci yang bertumpuk-tumpuk itu. Setiap kita mendakinya, menuju ke ketinggian sana. Dan di sanalah tempat menukar asa, menggadaikan mimpi. Tapi orang tak tahu di ketinggian sana cuma ada hampa, karena setiap tanda dieja dengan asa, isyarat dibaca dengan hasrat, rindu dirasai dengan nafsu.
11
Ya, suara itu selalu menggodam hatiku yang beku di antara lompatan waktu yang mengejar entah. Dan puncak? Di manakah itu? Di ketinggian sana? Pada lazuardi itu? Ayo, ayo, angkat rasamu, junjung jiwamu, tinggi menjulang, di ketinggian sana, pada lazuardi itu. Kau akan mengecil, dan terus mengecil, dan berhenti pada ketiadaan: lalu kau ada pada cuma cahaya. Ayo, ayo, angkat rasamu, junjung jiwamu, terpejam menjulang pada lazuardi itu. Kau akan merasa ringan, dan terus meringan terbang, dan berhenti pada ketiadaan: lalu kau ada pada cuma hampa. O, ada pada cuma cahaya dan hampa!
Entah setelah berapa lama, kemudian malam-malamku adalah bergelut dalam perjalanan menuju puncak itu: menuju ketiadaan lalu ada pada cuma cahaya; menuju ketiadaan lalu ada pada cuma hampa.
12
