Perjalanan Rindu

Pada waktu yang tak pernah berhenti berputar, aku terus mengikuti, bermandi peluh, untuk tak berhenti cuma pada tanya. Di situ aku cuma sebuah titik, dan mungkin menjadi bagian, dari beribu-ribu yang berkumpul. Pada setiap malam, pada setiap purnama, atau pada malam-malam yang telah ditentukan, mereka mencari jalan, mereka menapaki undakan, mereka menuju puncak.

Inilah jalannya: ada beribu-ribu butir tasbih yang terus diputar dan berputar; dah-dahi berjejer rapi menembus bumi; berpasang-berpasang tangan berimpitan hendak memeluk langit; berpasang-pasang mata seperti mata air yang hendak menggenangi ladang gersang; ada sekian ratapan bersahutan yang membubung berdesakan; ada lolong yang saling bersahutan; dan tubuh-tubuh yang berpeluh terus berputar-putar, terus bergoyang-goyang. Bergetar. Menggelepar.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Puncak! Di manakah puncak?!

Tapi aku cuma sebuah titik, dan mungkin hanya bagian, dari beribu-ribu yang berkumpul itu. Dan aku terus mengikuti, bermandi peluh, untuk tak berhenti pada sesuatu yang akan membeku dalam arus waktu.

13

Ada lelaki sebagai orang yang disucikan. Begitulah namanya. Ia menjadi juru mudi dari beribu-ribu yang berkumpul itu. Dan aku cuma sebuah titik di dalamnya. Ia mengajak mengeja waktu. Ia mengajak mengecap rindu. Ia mengajak memaknai cinta. Ia mengajak bertanya: kenapa kita ada?

Yang beribu-ribu itu datang dari segala penjuru. Dari pojok kerinduan. Dari relung kemiskinan. Dari kerak-kerak kemaksiatan. Dari tumpukan dusta. Dari impitan nista. Dan dari mimpi-mimpi yang belum sempat tergadai. Dan lelaki itu selalu menyihir waktu yang membeku: magi yang selalu mengundang harapan. Dan yang beribu-ribu itu terus menengadah: bintang-gemintang masih bertaburan pada ketinggian lazuardi itu. Tapi aku cuma sebuah titik, yang terbungkuk-bungkuk karena malu tak kuasa memanggul rindu.

Dan lelaki itu masih saja mengajak mengeja waktu.

Jangan ada yang beku dalam arus perputaran waktu, katanya. Maka, ketika dewi malam menyelimuti setiap jiwa yang terkulai di atas ranjang, ia berdiri tegak di tengah hamparan bintang-gemintang, lalu berjalan mengelilingi bilik-bilik yang berderet melingkar.

“Jaga. Jaga. Jagalah dari tidurmu. Qum!”

Malam adalah saat terbukanya pintu langit. Beribu-ribu malaikat membuka kunci-kunci langit yang berlapis-lapis itu. Dan selalu, lelaki itu memimpin sepasukan yang terus merindu. Dan selalu, lelaki itu terus memukul-mukulkan tongkatnya, mengibas-ngibaskan jubahnya —agar jalan semakin lapang, agar jarak semakin dekat, agar waktu semakin singkat.

Dan lelaki itu masih saja mengajak mengecap rindu.

Jangan ada yang beku dalam arus perputaran waktu, katanya. Maka, ketika dewi malam menyelimuti setiap jiwa yang terkulai di atas ranjang, ia berdiri tegak di tengah hamparan bintang-gemintang, lalu berjalan mengelilingi bilik-bilik yang berderet melingkar.

“Jaga. Jaga. Jagalah dari tidurmu. Qum!”

Dan aku tergeriap. Beberapa panci beterbangan, menggedor-gedor pintu bilik-bilik kamar yang berderet-deret itu.

“Usir mimpi-mimpimu itu, yang menjadi kabut, yang menyelimuti mata hati!”

Dan lelaki itu masih saja mengajak memaknai cinta.

Hidup itu mengatasi kebekuan dalam arus perputaran waktu, katanya. Maka, ia pun menjadi lautan, yang airnya mengayun segala yang ingin hidup dan hendak mati, yang ombaknya memacu gairah, yang gelombangnya memompa gelora, yang anginnya memberikan daya, yang dari pantainya mata memeluk kaki langit. Dan pada laut itu, air jauh dari beku.

Dan lelaki itu masih saja mengajak bertanya: kenapa kita ada?

Waktu tak boleh pernah membeku, katanya. Maka, hitunglah detak jantungmu. Ciumlah aroma darahmu yang terus bergerak mengalirkan rasa rindu. Bukan cuma bintang-bintang, bukan cuma rembulan, bukan cuma matahari— deru angin pun akan membasuh wajahmu, mengiringi gerak nadimu.

Ya, tapi aku cuma sebuah titik dari beribu-ribu yang berkumpul itu, yang tertatih-tatih karena tak kuasa memanggul rindu.

14

Maka aku lari dari yang selalu, segala yang rutin. Pori-poriku tak lagi merasakan semilirnya angin dari kibasan jubah lelaki itu. Mataku tak lagi melihat tongkat di tangan lelaki itu, yang selalu menunjuk menghitung bintang-bintang di tengah malam. Aku bukan lagi sebuah titik di tengah ribuan butir tasbih yang terus berputar, beribu-ribu tubuh yang terus bergoyang dan bergoyang, berpeluh-peluh, bergetar, menggelepar.

Maka aku keluar dari yang selalu, segala yang rutin. Aku bukan lagi sebuah titik saat lelaki itu masih saja mengajak mengeja waktu, mengajak mengecap rindu, mengajak memaknai cinta, dan mengajak bertanya: kenapa kita ada? —lalu mengibaskan jubah, terbang melayang menuju puncak: menuju ketiadaan lalu ada pada cuma cahaya; menuju ketiadaan lalu ada pada cuma hampa.

Maka aku berpaling dari yang selalu, segala yang rutin. Karena aku selalu gamang untuk sampai pada puncak, untuk menukar rindu yang selalu menggodam waktu agar tidak membeku dengan bertemu. Karena aku tak mengeja tanda dengan asa, membaca isyarat dengan hasrat, merasai rindu dengan nafsu. Karena, kata orang, puncak itu dingin dan beku.

Kembali aku tersuruk-suruk di antara lapis-lapis waktu, terlipat-lipat di antara bibir-bibir yang mencibir— menjadi angin, menjadi air, menjadi api, menjadi debu.

15

Seperti air, seperti api, seperti angin, seperti debu: aku datang dari yang jauh, dan akan terus merindu pada yang jauh…

Tinggalkan Balasan