Perjamuan Sengkuni

“Ehhmm, sudah siap! Tapi, begini, saya dan pelayan-pelayan lain hendak bertanya, apakah ini tidak salah ataukah memang strategi kelicikan, seperti menjadi kebiasaan Tuanku Sengkuni?” tanya kepala pelayan.

“Maksudmu?” tanya Sengkuni penasaran.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Jadi begini, yang kita undang adalah Adipati baru. Kami berpikir apakah ini pantas?” kepala pelayan mecoba menjelaskan.

“Bagian mana yang tidak pantas menurutmu, wahai pelayan?”

“Bagaimanapun, Adipati Tomon adalah pejabat, meski baru. Tapi, masakan yang disajikan sederhana, masakan ala wong ndeso. Nasi pecel, peyek, pete, tempe, perkedel, minumannya beras kencur, dawet, kuenya juga kue cucur, apem, juga klepon. Pantaskah menurut Tuan Sengkuni?”

“Ha-ha-ha…, aku paham keraguan kalian. Begini, Adipati Tomon berasal dari kaum jelata, kasta sudra. Dia adalah rakyat, ndeso, bahkan ketika dia berkampanye selalu mengatasnamakan rakyat, demi rakyat, untuk rakyat. Jadi, kalian tenang saja. Aku semua yang bertanggung jawab.”

“Hamba masih tidak percaya, Tuanku Sengkuni. Apakah Tuan punya misi lain sehingga ini hanyalah taktik belaka?”

“Loh, kamu tidak percaya aku sudah bertobat? Aku tidak ingin licik lagi. Aku ingin berdamai dengan Gustiku. Makanya, langkah awalku dengan memanggil Adipati baru ini. Aku ingin berdiskusi dengannya, perihal program-program kerakyatan dan keadilan untuk kadipatennya.”

Kepala pelayan mengangguk perlahan tetap dengan keraguannya. Ia tahu, Sengkuni tidak pernah tobat. Sengkuni adalah inspirator para provokator. Jika ia bertobat, maka kepada siapa lagi para hoax-er akan berkiblat.

Sengkuni menangkap keraguan kepala pelayan tersebut. Dengan menepuk pundak pelayan tadi, Sengkuni berkata untuk menenangkan, “Percayalah, akan ada Adipati baru, siap dengan segala perubahan. Segala penderitaan, penindasan, adu domba, kesengsaraan rakyat akan….”

Kepala pelayan sigap menjawab, “Akan bertambah lagi, bahkan lebih parah daripada sebelumnya. Betulkah demikian yang Tuan maksudkan?” pelayan tadi hafal betul dengan karakter tuannya.

Sengkuni tertawa, “Ha-ha-ha… aku serius! Adipati baru untuk perubahan yang benar dan besar. Ya seperti tadi, kerakyatan dan merakyat. Maka, jamuan dengan hidangan rakyat ini menjadi simbolnya. Sudah, sudah, kembali bekerja. Waktu kita sudah mepet. Sebentar lagi Adipati Tomon segera datang.”

Kepala pelayan yang masih tak percaya menuruti saja kemauan tuannya. Ia bergegas menyiapkan segala macam hidangan ndeso sebagai simbol merakyat yang Sengkuni maksudkan.

Waktu telah tiba. Adipati Tomon datang setelah telat dua jam. Sengkuni pun huznusan, memakluminya, karena pejabat baru, tentu banyak kerepotan yang dimiliki. Segera Sengkuni mempersilakan tamunya.

“Silakan, monggo, monggo, silakan Tuanku Adipati Tomon silakan duduk.”

Adipati Tomon memaksa untuk tersenyum, “Terima kasih, Tuan Sengkuni. Apakah tidak ada kursi untuk duduk? Di mana saya harus duduk? Saya ini orang yang punya kedudukan lo, jadi harus ada kursi untuk saya duduki.”

Sengkuni segera mengklarifikasi, “Lesehan saja Tuan Tomon. Bukankah lesehan ini simbol keadilan? Sama-sama duduk, tidak ada yang di atas atau di bawah.”

Adipati Tomon dengan terpaksa akhirnya mau duduk lesehan di tikar yang telah disiapkan.

Tinggalkan Balasan